Kementerian LHK Temukan 711 Hotspot di Indonesia, Terbanyak di Kalimantan Barat (Minggu, 15 Maret 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 711 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 61 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Minggu (15/3/2026) pukul 11.47 WIB. Dari 711 titik panas terdeteksi, 32 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 594 titik skala sedang, dan 85 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Indonesia Punya Gunung Berapi Aktif Terbanyak di Dunia)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Barat sebanyak 333 titik. Kalimantan Tengah menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 85 titik. Riau berada di posisi ketiga sebanyak 78 titik panas.
Sebanyak 36 titik panas terdeteksi di Kalimantan Timur, Kepulauan Riau menyusul dengan 24 titik panas, serta Maluku Utara dan Sulawesi Selatan masing-masing memiliki 20 dan 19 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Tren Letusan Gunung Berapi dalam Beberapa Tahun Terakhir)