Pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, menunjukkan fluktuasi selama periode 2018-2024. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada 2024, pengeluaran mencapai Rp117.726 per kapita per bulan, mengalami penurunan turun 8,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Data ini menunjukkan adanya perubahan preferensi atau kondisi ekonomi yang memengaruhi konsumsi masyarakat terhadap makanan dan minuman jadi.
Jika dibandingkan dengan total pengeluaran per kapita sebulan untuk aneka barang dan jasa sebesar Rp155.699, pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi mencerminkan porsi yang signifikan. Namun, pengeluaran ini masih lebih kecil dibandingkan rata-rata pengeluaran untuk rokok dan tembakau yang mencapai Rp113.064 per kapita per bulan. Hal ini mengindikasikan bahwa konsumsi rokok dan tembakau masih menjadi prioritas bagi sebagian masyarakat di Kabupaten Luwu.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Aneka Barang dan Jasa Kab. Sambas | 2024)
Secara historis, pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi di Kabupaten Luwu mengalami pasang surut. Setelah mengalami penurunan turun 12.4% pada 2019, pengeluaran kembali naik tipis pada tahun-tahun berikutnya. Pada 2023, pengeluaran mencapai Rp129.220, namun kemudian mengalami penurunan lagi pada 2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat terhadap makanan dan minuman jadi cukup sensitif terhadap perubahan ekonomi atau faktor-faktor lain yang memengaruhi daya beli.
Dalam skala regional, Kabupaten Luwu berada di peringkat 20 dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan dalam hal pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi. Peringkat ini menunjukkan bahwa tingkat konsumsi makanan dan minuman jadi di Kabupaten Luwu masih lebih rendah dibandingkan wilayah lain seperti Kota Makassar (peringkat 1) atau Kota Palopo (peringkat 2). Secara nasional, Kabupaten Luwu berada di peringkat 446.
Jika dibandingkan dengan beberapa kabupaten/kota lain di Sulawesi Selatan, terlihat perbedaan signifikan dalam pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi. Di Kota Makassar, pengeluaran mencapai Rp256.128 pada 2024 dengan pertumbuhan 3%, sementara di Kota Palopo mencapai Rp248.024 dengan pertumbuhan 1.9%. Kabupaten Bantaeng mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 38.9% dengan pengeluaran Rp241.707. Sementara itu, Kabupaten Luwu mencatat penurunan turun 8.9% menjadi Rp117.726.
(Baca: Pendapatan Pemprov dari Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Pengelolaan Kekayaan yang Dipisahkan dalam APBD Pemda Periode 2013-2024)
Kota Makassar
Kota Makassar menunjukkan sebagai wilayah dengan rata-rata pengeluaran bukan makanan tertinggi di Sulawesi Selatan, mencapai Rp1.012.020 pada tahun 2024, meningkat 8.9% dari tahun sebelumnya. Data ini menempatkan Makassar pada peringkat pertama di antara kabupaten/kota di provinsi tersebut. Tingginya pengeluaran bukan makanan ini mencerminkan tingkat konsumsi yang kuat di sektor jasa dan barang non-esensial. Total pengeluaran makanan dan bukan makanan di kota ini juga tertinggi, mencapai Rp1.803.702.
Kota Palopo
Dengan pengeluaran bukan makanan sebesar Rp822.375 pada tahun 2024, Kota Palopo mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 21.3% dibandingkan tahun sebelumnya, menempatkannya pada peringkat ketiga di Sulawesi Selatan. Peningkatan ini menunjukkan adanya peningkatan daya beli masyarakat dalam memenuhi kebutuhan selain makanan. Total pengeluaran untuk makanan dan bukan makanan di Kota Palopo mencapai Rp1.583.231, menduduki peringkat kedua tertinggi.
Kabupaten Bantaeng
Kabupaten Bantaeng menunjukkan peningkatan pengeluaran bukan makanan yang luar biasa, mencapai 40.5% dengan nilai Rp599.915 pada tahun 2024. Pertumbuhan yang signifikan ini menempatkan Bantaeng pada peringkat ke-10 di Sulawesi Selatan dalam hal pengeluaran bukan makanan. Total pengeluaran makanan dan bukan makanan di kabupaten ini juga mengalami kenaikan signifikan, mencapai Rp1.359.035.
Kabupaten Luwu Utara
Kabupaten Luwu Utara mencatatkan pengeluaran bukan makanan sebesar Rp594.634 pada tahun 2024, dengan pertumbuhan 18% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan non-primer. Total pengeluaran untuk makanan dan bukan makanan di kabupaten ini mencapai Rp1.298.025, menempatkannya di posisi ke-9 di Sulawesi Selatan.