US Energy Information Administration (US EIA) menghimpun tren pengangkutan minyak di Selat Malaka selama 2020-semester I 2025. Pengangkutan ini mencakup minyak mentah, kondensat, dan produk minyak bumi.
Tercatat, volume minyak yang diangkut di kawasan itu berkisar 22 juta-24 juta barel per hari selama periode tersebut.
Data terakhir pada semester I 2025, volume pengangkutannya mencapai 23,2 juta barel per hari. Bobot itu pun sudah lebih banyak 3,11% dari rerata setahun penuh pada 2024 yang mencapai 22,5 juta barel per hari.
Volume pengangkutan pada semester I 2025 setara dengan 29% dari total aliran minyak maritim global.
US EIA menjelaskan, Selat Malaka menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Ini merupakan rute laut terpendek antara pemasok minyak dan gas alam dari Timur Tengah dengan Asia Timur dan Asia Tenggara.
"Selat ini merupakan jalur sempit (chokepoint) utama di kawasan Asia dan Oseania," tulis US EIA dalam lamannya.
Selat Malaka menjadi chokepoint terbesar di dunia dari sisi volume transit minyak. Minyak mentah umumnya mencakup sedikit di atas 70% dari total aliran minyak melalui selat ini setiap tahun, sementara sisanya berasal dari produk minyak bumi.
Sebagian besar aliran minyak mentah yang melewati Selat Malaka ditujukan ke negara-negara Asia Timur dari Timur Tengah.
US EIA juga mencatat, China menyumbang 48% dari volume impor melalui selat ini pada semester I 2025.
"Amerika Serikat juga mengekspor dan mengimpor minyak mentah yang melewati Selat Malaka," kata US EIA.
Pada Semester I 2025, AS tercatat mengirimkan 800.000 barel per hari minyak mentah dan kondensat dari pantai Atlantik melalui Selat Malaka ke Asia Timur, sedangkan pantai Pasifik AS menerima sekitar 200.000 barel per hari kargo melalui selat ini, terutama dari Timur Tengah.
(Baca: Perbandingan Pengangkutan Minyak Melalui Hormuz dan Jalur Global)