KLHK: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 796 Dalam 24 Jam Terakhir (Senin, 12 Agustus 2024)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 796 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 263 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Senin (12/8/2024) pukul 16.08 WIB. Dari 796 titik panas terdeteksi, 25 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 725 titik skala sedang, dan 46 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Kualitas Udara Jawa Barat Rabu Pagi Terburuk di Indonesia)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Jawa Timur sebanyak 144 titik. Kalimantan Barat menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 79 titik. Kalimantan Timur berada di posisi ketiga sebanyak 70 titik panas.
Sebanyak 46 titik panas terdeteksi di Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat menyusul dengan 44 titik panas, serta Jambi dan Kalimantan Utara masing-masing memiliki 41 dan 40 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Kualitas Udara Banten Minggu Pagi Terburuk di Indonesia)