Di langit Bahrain, Kuwait, hingga Ukraina, drone Shahed 136 milik Iran tampak melintas sejak 28 Februari 2026.
Kesaksian tersebut terunggah dalam video warganet melalui laporan The Guardian yang diwartakan Katadata.
Drone bersayap delta terbang menuju gedung bertingkat tinggi pada malam hari. Suara deru mesinnya terdengar jelas seperti mesin pemotong rumput, sebelum menabrak gedung, dengan puing-puing berapi berjatuhan di luar jendela balkon.
Lebih dari 1.000 drone, yang sebagian besar kemungkinan adalah Shahed 136, telah menargetkan negara-negara tetangga Iran di Teluk sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel pertama kali menyerang Teheran pada Sabtu (28/2/2026) pagi. Ini merupakan upaya Iran mengintimidasi para sekutu AS di regionalnya.
Pada Senin (2/3/2026) sore, Uni Emirat Arab (UEA) pun mengatakan telah diserang oleh 689 drone dan telah menembak jatuh 645 di antaranya. Artinya, 44 drone berhasil lolos.
Serangan dengan drone Shahed 136 juga dilaporkan terjadi di Kuwait. Jangkauan drone ini mencapai 2.000 kilometer dan biasanya diprogram sebelumnya pada jalur penerbangan yang kompleks, terbang rendah di atas tanah untuk menghindari deteksi radar.
(Baca: Iran Balas Serangan, AS Boncos Hampir US$2 Miliar dalam 4 Hari Perang)
AS pun mulai menggunakan pesawat nirawak Low-cost Unmanned Combat Attack System atau LUCAS untuk pertama kalinya. Ini telah dikonfirmasi para pejabat Komando Pusat AS atau CENTCOM yang Katadata kutip dari MilitaryTimes pada Minggu (1/3/2026).
Pesawat nirawak ini diluncurkan sebagai bagian dari operasi Epic Fury, yang menargetkan fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC), kemampuan pertahanan udara Iran, lokasi peluncuran rudal dan pesawat nirawak, serta lapangan terbang militer.
LUCAS adalah drone kamikaze serangan sekali pakai. Pesawat nirawak ini dapat diluncurkan melalui ketapel, lepas landas dengan bantuan roket, maupun sistem darat bergerak.
Bila dibandingkan, kedua jenis drone itu sebenarnya sama-sama tergolong murah. Desain drone Shahed 136 Iran menggarisbawahi pentingnya efisiensi biaya.
Sederhananya, Amerika Serikat tidak memiliki sumber daya yang tak terbatas. Jauh lebih hemat biaya untuk mengerahkan drone LUCAS dengan harga sekitar US$ 35 ribu per unit, dibandingkan rudal jelajah Tomahawk seharga US$ 2,5 juta per unit untuk versi terbaru.
(Baca: Dari Bush hingga Trump, AS Telah Mengebom 10 Negara sejak 2001)
Berikut rincian perbandingan drone Shahed 136 dari Iran dan LUCAS dari AS:
| No. |
Aspek |
Shahed 136 (Iran) |
LUCAS (AS) |
| 1. |
Desain Dasar |
Delta-wing drone kamikaze
|
Delta-wing attack drone mirip Shahed |
| 2. |
Keunggulan |
Murah, jarak jauh |
Murah, massal, otonom, swarm atau bisa meniru perilaku kawanan serangga/burung
|
| 3. |
Jangkauan |
1.000–2.500 km
|
1.000–2.000 km |
| 4. |
Berat/muatan |
~200 kg, 30–50 kg peledak
|
150–200 kg, ~40–50 kg muatan |
| 5. |
Panduan |
GPS/INS sederhana
|
GPS/INS + opsional link data |
| 6. |
Peluncuran |
RATO dari kendaraan
|
Catapult, RATO, kendaraan, dan udara |
| 7. |
Harga |
US$50.000 (Rp843 juta)
|
US$35.000 (Rp590 juta) |
Senior Fellow di Carnegie Endowment for International Peace Steven Feldstein menilai, kehadiran drone Shahed 136 Iran menunjukkan bahwa inovasi teknologi tidak mengalir dalam satu arah dari negara yang lebih maju ke negara yang kurang maju.
Sebaliknya, hal itu menunjukkan bahwa inovasi baru berasal dari berbagai sumber.
Desain Iran telah jelas menunjukkan manfaatnya, termasuk di Ukraina. Rusia bahkan menginvestasikan US$ 2 miliar untuk mendirikan pabrik khusus untuk memproduksi model drone ini, yang disebut unit Geran-2.
“Tidak mengherankan jika Amerika Serikat juga meniru desain ini,” kata Steven dikutip dari laman resmi.
(Baca artikel Katadata oleh Rahayu Subekti: Perbandingan Drone Shahed 136 Iran vs LUCAS AS, Sama-sama Murah)