Menurut data Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), ada 907 kasus serangan dan insiden keamanan digital yang tercatat di Indonesia sepanjang tahun 2025.
Jumlah tersebut melonjak hampir tiga kali lipat dibanding 2024, yang hanya 330 kasus.
"Lonjakan ini sudah terlihat sejak awal tahun dan berulang sepanjang periode pelaporan," kata SAFEnet dalam laporannya.
Pada 2025, serangan digital paling banyak terjadi di Instagram dengan jumlah 278 kasus, setara 31% dari total kasus yang tercatat.
Wujud serangan digital ini mencakup pengancaman, peretasan, doxing, penangguhan akun, pemerasan, penyedotan data, hingga ransomware.
Berikut rincian jumlah insiden dan serangan digital di Indonesia berdasarkan platform sepanjang 2025, menurut data SAFEnet:
- Instagram: 278 kasus
- WhatsApp: 230 kasus
- X: 71 kasus
- Facebook: 56 kasus
- Situs web: 55 kasus
- TikTok: 50 kasus
- Perangkat: 43 kasus
- E-mail: 31 kasus
- Telegram: 26 kasus
- Telepon seluler: 18 kasus
- YouTube: 11 kasus
- Threads: 5 kasus
- Discord: 4 kasus
- LinkedIn: 2 kasus
- Lainnya: 27 kasus
Menurut SAFEnet, data ini menunjukkan bahwa serangan tidak hanya menyasar ruang ekspresi publik, tapi juga ruang komunikasi privat korban.
"Platform X kerap menjadi titik awal penyampaian kritik, Instagram menjadi medium serangan berbasis identitas, sementara WhatsApp digunakan untuk intimidasi langsung yang berdampak psikologis," kata SAFEnet.
SAFEnet juga menemukan, dalam konteks politik, serangan digital tidak lagi hanya menyasar aktivis HAM, organisasi masyarakat sipil, atau jurnalis, tapi juga warga biasa hingga aparatur sipil negara.
"Kritik terhadap kebijakan kian diperlakukan sebagai ancaman stabilitas, sehingga unggahan yang merefleksikan keresahan publik sering menjadi sasaran serangan, bahkan berdampak hingga pada keluarga korban," kata SAFEnet.
(Baca: AJI: Serangan Digital terhadap Pers di Indonesia Naik 190% pada 2025)