Menurut Ipsos, masyarakat Indonesia menempati peringkat pertama terkait pemahaman yang baik tentang artificial intelligence (AI).
Dalam laporan The Ipsos AI Monitor 2024, proporsi responden Indonesia yang mengakui hal tersebut mencapai 86%.
Persentase tersebut di atas rata-rata global yang berada di angka 67%. Di bawah Indonesia, ada Meksiko dengan proporsi 80%.
Disusul Peru 79%, Afrika Selatan 76%, serta Thailand dan Hungaria dengan masing-masing 75%.
Ipsos juga mengungkap, mengenai pengetahuan produk dan layanan pada AI, 80% responden Indonesia juga mengaku sudah memahaminya, dibandingkan dengan Malaysia (61%) dan Jerman (41%).
Dari aspek kepercayaan terhadap AI, 66% responden Indonesia percaya perusahaan yang menggunakan AI akan menjaga data pribadi mereka.
“Keoptimisan yang ada pada masyarakat Indonesia terhadap AI ini juga terlihat jelas pada data yang menampilkan jika lebih dari setengah [68%] masyarakat Indonesia percaya bahwa AI tidak akan mendiskriminasi atau menunjukkan bias terhadap kelompok mana pun,” ucap Ipsos dikutip dari laman resminya, Jumat (23/5/2025).
Maka bagi Ipsos, riset ini tak hanya menunjukkan pemahaman masyarakat Indonesia yang tinggi tentang AI, tetapi juga optimisme dan harapan terhadap potensi kecerdasan buatan.
“Namun, kekhawatiran tentang dampak AI pada pekerjaan, privasi, dan keamanan juga perlu dipertimbangkan. Penting untuk terus meningkatkan edukasi dan membangun kerangka kerja yang etis untuk memastikan AI digunakan secara bertanggung jawab dan bermanfaat bagi semua,” ucap Ipsos.
Survei The Ipsos AI Monitor 2024 dilakukan di 32 negara dengan melibatkan 23.685 responden berusia di bawah 75 tahun. Khusus Indonesia, responden yang terlibat sebanyak 500 orang.
Survei tersebut dilakukan secara online pada 19 April-3 Mei 2024. Khusus India, ada pula responden yang diwawancarai secara langsung.
(Baca: Ini Kekhawatiran Masyarakat RI terhadap Penggunaan AI)