Tren Sentimen TikTok terhadap Harga Minyak Dunia April 2026

1
Irfan Fadhlurrahman 22/04/2026 14:34 WIB
Image Loader
Memuat...
Persentase Sentimen Percakapan di TikTok tentang Harga Minyak Dunia (12 April 2026-20 April 2026)
databoks logo
  • A Kecil
  • A Sedang
  • A Besar

Eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk memicu lonjakan harga minyak dunia yang mengancam stabilitas ekonomi Indonesia.

Kondisi ini menjadi sorotan luas di media sosial karena masyarakat Indonesia mengkhawatirkan efek domino kenaikan energi global terhadap inflasi dan meroketnya harga kebutuhan pokok di pasar lokal.

Tim Databoks menganalisis percakapan mengenai harga minyak dunia dari media online dan media sosial Instagram, TikTok, dan X.

Melansir sampel percakapan di TikTok mengenai harga minyak dunia selama April 2026, ada 5 temuan utama terkait percakapan tersebut yakni.

  1. Kenaikan Harga BBM Non Subsidi dan Dampaknya

    Masyarakat khawatir akan dampak kenaikan harga BBM non subsidi terhadap biaya hidup dan ekonomi, terutama dengan ancaman lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.

  2. Kebijakan Subsidi BBM dan Stabilitas Harga

    Masyarakat mendukung kebijakan pemerintah untuk menahan harga BBM subsidi hingga akhir 2026, namun khawatir akan kelangkaan pasokan dan potensi kenaikan harga di masa depan.

  3. Ketidakpastian Geopolitik dan Krisis Energi Global

    Konflik di Timur Tengah (khususnya blokade Selat Hormuz oleh AS terhadap Iran) menyebabkan fluktuasi harga minyak dunia yang signifikan, berdampak pada ketahanan energi dan ekonomi Indonesia.

  4. Dampak Kenaikan Harga Minyak pada Inflasi dan Daya Beli

    Kenaikan harga minyak dunia dan BBM menyebabkan inflasi meningkat, daya beli masyarakat menurun, dan biaya produksi industri melonjak, terutama pada sektor transportasi dan pangan.

  5. Alternatif Energi dan Ketahanan Energi Nasional

    Masyarakat menginginkan pemerintah memperkuat upaya pengembangan energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada impor minyak untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Dari sampel percakapan tersebut, sentimen negatif menorehkan angka tertinggi yakni 60,73% dari total sentimen yang dianalisis.

Adapun percakapan dengan sentimen positif sebesar 19,94% dan netral 19,34%.

Sentimen negatif menunjukkan percakapan mengenai mengkritik pemerintah karena tidak mampu mengontrol kenaikan harga BBM non subsidi yang berdampak pada biaya hidup masyarakat.

Sementara, perbincangan dengan sentimen positif berisi menyambut baik kebijakan pemerintah untuk menahan harga BBM subsidi hingga akhir 2026 sebagai bentuk perlindungan terhadap daya beli masyarakat.

(Baca: Inflasi Tahunan di 38 Provinsi Indonesia Maret 2026, Aceh Tertinggi)

Data Populer

Loading...