Genteng merupakan bahan atap rumah yang paling banyak digunakan di Indonesia.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2021, sebanyak 55,86% rumah tangga nasional memakai genteng sebagai bahan utama atap mereka.
Jenis bahan lain yang banyak digunakan adalah seng, dengan proporsi pengguna 31,38% dari total rumah tangga.
Ada juga rumah yang memakai atap asbes, beton, jerami/ijuk/daun/rumbia, bambu/kayu/sirap, atau bahan lainnya, tapi proporsinya lebih kecil seperti terlihat pada grafik.
Posisi genteng yang mendominasi ini tampaknya akan berlanjut.
Pasalnya, pada awal 2026, Presiden Prabowo Subianto menyatakan akan membuat proyek "gentengisasi", yakni mengganti atap rumah berbahan seng menjadi genteng.
"Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi nanti proyeknya adalah proyek 'gentengisasi' seluruh Indonesia," kata Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, pada Senin (2/2/2026).
"Alat pabrik genteng itu tidak mahal. Jadi nanti koperasi-koperasi Merah Putih akan kita lengkapi dengan pabrik genteng. Genteng itu bahan bakunya dari tanah, dan dengan dicampur beberapa zat limbah lainnya, bisa ringan dan kuat," ujarnya.
Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, pemerintah siap mendanai proyek "gentengisasi".
Airlangga juga mengatakan, proyek tersebut merupakan salah satu strategi pemerintah memperkuat sektor pariwisata.
"Turis tidak akan datang kalau sampahnya numpuk dan atapnya semua atap seng yang berkarat," kata Airlangga, diberitakan Katadata.co.id (2/2/2026).
(Baca: Baru 65% Rumah Tangga RI yang Tinggal di Hunian Layak pada 2024)