TNB Aura—perusahaan modal ventura asal Singapura—memproyeksikan pertumbuhan market size atau potensi nilai penjualan furnitur di lima negara Asia Tenggara hingga 2029.
Dalam proyeksinya, pendapatan dari penjualan furnitur di Malaysia menjadi yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara, dari US$4,01 miliar pada 2022 menjadi US$5,35 miliar pada 2029.
Indonesia menempati peringkat kedua, dengan market size furnitur diproyeksi tumbuh dari US$3,02 miliar pada 2022 menjadi US$3,61 miliar pada 2029.
Posisi Indonesia unggul dari Singapura, Vietnam, dan Filipina, yang secara berurutan menempati peringkat tiga hingga lima, sebagaimana grafik di atas.
TNB Aura menjelaskan, ukuran pasar furnitur di setiap negara diposisikan tumbuh dari tahun ke tahun. Terdapat empat pendorong pertumbuhan industri ini, yaitu logistik, diferensiasi, ekosistem, dan pembangunan merek.
Menurut TNB Aura, logistik perlu dikembangkan karena merek-merek furnitur di Asia Tenggara kurang memanfaatkan teknologi dalam operasional.
Padahal, teknologi bisa menyajikan peluang berinvestasi dalam sistem inventaris, point of sale (POS), sistem customer relationship management (CRM), dan manufaktur berbasis teknologi.
Adapun diferensiasi diperlukan karena dipandang belum ada pemain yang menggunakan perangkat lunak atau jasa konsultan desain interior.
“Mengintegrasikan alat desain berbasis langganan dapat menarik klien, desainer, dan kontraktor,” jelas TNB Aura.
Sementara, ekosistem yang dimaksud adalah jaringan desain interior yang dinilai kurang berkembang, sehingga solusi manajemen langganan untuk kontraktor dan desainer diharapkan bisa memperkuat ekosistem.
Sedangkan dalam pembangunan merek, marketplace disarankan digunakan juga dalam menciptakan merek yang berdiri sendiri.
Tujuannya, kata TNB Aura, untuk membuka pendapatan baru dan menciptakan margin yang lebih besar, mengontrol rantai pasokan, dan mengintegrasikan manufaktur canggih.
(Baca: Mebel Kayu, Komoditas Ekspor Utama Industri Furnitur Indonesia)