Menurut data Kpler yang diolah kolumnis transisi energi global, Gavin Maguire di Reuters, Indonesia menguasai pangsa pasar ekspor batu bara termal global pada 2025, sebesar 50%.
Terdapat sejumlah negara yang menjadi pasar utama batu bara termal Indonesia. Terbesar adalah China dengan pangsa hingga 42%.
Proporsi itu berjarak jauh dengan India di posisi kedua yang menyumbang pangsa 19%.
Maguire memberi catatan bahwa ketergantungan tiap negara terhadap pasokan Indonesia berbeda-beda.
"Negara-negara utama seperti China dan India sebagian besar masih mengandalkan tambang domestik untuk memenuhi kebutuhan batubara mereka," kata Maguire dalam tulisan yang dipublikasikan pada Rabu (4/2/2026).
Selanjutnya ada Filipina sebesar 7%, serta Korea Selatan, Malaysia, Vietnam, dan Jepang yang masing-masing sebesar 5%.
Negara lainnya tercatat kurang dari 5%, seperti terlihat pada grafik.
(Baca: Indonesia Kuasai Ekspor Batu Bara Termal Dunia pada 2025)
Maguire menyebut, sistem utilitas di penjuru Asia tengah kelimpungan menutup potensi kekurangan pasokan batu bara kritikal setelah penambang Indonesia—produsen batu bara terbesar dunia—menghentikan ekspor batu bara di pasar spot sebagai bentuk protes terhadap rencana pemerintah yang ingin membatasi produksi.
Dalam tulisannya, Maguire menyampaikan bahwa seorang pejabat pertambangan batu bara Indonesia menyebut ekspor yang terikat kontrak jangka panjang akan tetap berjalan, tetapi pengiriman di pasar spot akan dibatasi hingga ada keputusan final terkait kuota pemerintah.
"Pejabat tersebut juga memperingatkan bahwa bahkan sebagian kontrak jangka panjang berisiko terganggu karena para penambang menghadapi kondisi tak terduga," tulis Maguire pada Rabu (4/2/2026).
Bantahan Pemerintah Indonesia
Terkait kabar pemangkasan kuota produksi itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan belum mengeluarkan persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) untuk komoditas batu bara tahun ini.
Diberitakan Katadata, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, Tri Winarno merespons kabar yang beredar bahwa sejumlah perusahaan telah mengantongi persetujuan RKAB tanpa pemangkasan (0%) kuota produksi.
Padahal, Kementerian ESDM berencana memangkas RKAB batu bara untuk mengerek harganya tahun ini. Dia menyebut berita-berita yang beredar merupakan informasi yang tidak benar.
“Poinnya adalah sampai saat ini Kementerian ESDM belum mengeluarkan persetujuan RKAB 2026,” kata Tri saat ditemui di Jakarta Selatan, Kamis (5/2/2026).
(Baca: Februari 2026, Harga Acuan Batu Bara RI Dinaikkan 2%)