Menurut data Kpler yang diolah kolumnis dan eks editor Reuters, Gavin Maguire, Indonesia menguasai pangsa pasar ekspor batu bara termal global pada 2025.
Proporsi Indonesia mencapai 50% dari total ekspor komoditas tersebut pada tahun lalu.
Angka itu mengalahkan Australia yang duduk di posisi kedua, sebesar 21%. Lalu Rusia 11%, Afrika Selatan 6%, dan negara-negara lainnya yang kurang dari 5%, seperti terlihat pada grafik.
Maguire menyebut, sistem utilitas di penjuru Asia tengah kelimpungan menutup potensi kekurangan pasokan batu bara kritikal setelah penambang Indonesia—produsen batu bara terbesar dunia—menghentikan ekspor batu bara di pasar spot sebagai bentuk protes terhadap rencana pemerintah yang ingin membatasi produksi.
Dalam tulisannya, Maguire menyampaikan bahwa seorang pejabat pertambangan batu bara Indonesia menyebut ekspor yang terikat kontrak jangka panjang akan tetap berjalan, tetapi pengiriman spot akan dibatasi hingga ada keputusan final terkait kuota pemerintah.
"Pejabat tersebut juga memperingatkan bahwa bahkan sebagian kontrak jangka panjang berisiko terganggu karena para penambang menghadapi kondisi tak terduga," tulis Maguire pada Rabu (4/2/2026).
(Baca: Februari 2026, Harga Acuan Batu Bara RI Dinaikkan 2%)
Indonesia merupakan pemasok utama bagi banyak importir batu bara terbesar di dunia, termasuk China, India, Vietnam, dan Filipina.
Namun, periode panjang harga global yang lemah mendorong pemerintah Indonesia mengusulkan pemangkasan produksi dan penerapan kuota, dengan tujuan menaikkan harga ekspor serta penerimaan pajak.
Dalam temuan Maguire, perusahaan tambang batu bara di Indonesia juga mengancam akan melakukan pemutusan hubungan kerja dan menutup tambang jika pemangkasan produksi dipaksakan. Kondisi ini membuat pemerintah berada di bawah tekanan untuk mencari titik kompromi sebelum aktivitas pertambangan dan arus ekspor benar-benar terhenti.
"Pemerintah sebelumnya sudah menunjukkan sikap keras terhadap sektor pertambangan. Pada 2022, pemerintah sempat menangguhkan ekspor batu bara karena kekurangan pasokan untuk pembangkit listrik dalam negeri," kata Maguire.
Penangguhan tersebut memicu lonjakan tajam harga batu bara global saat itu. Sementara itu, kontrak berjangka batu bara termal acuan Asia sudah naik 9% dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu tahun menyusul intervensi terbaru ini.
(Baca: 10 Pembeli Utama Batu Bara Indonesia pada November 2025)
Bantahan Pemerintah Indonesia
Terkait kabar pemangkasan produksi itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan belum mengeluarkan persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) untuk komoditas batu bara tahun ini.
Diberitakan Katadata, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, Tri Winarno merespons kabar yang beredar bahwa sejumlah perusahaan telah mengantongi persetujuan RKAB tanpa pemangkasan (0%) kuota produksi.
Padahal, Kementerian ESDM berencana memangkas RKAB batu bara untuk mengerek harganya tahun ini. Dia menyebut berita-berita yang beredar merupakan informasi yang tidak benar.
“Poinnya adalah sampai saat ini Kementerian ESDM belum mengeluarkan persetujuan RKAB 2026,” kata Tri saat ditemui di Jakarta Selatan, Kamis (5/2/2026).
Tri mengatakan pemerintah ingin memastikan produksi batu bara yang lebih terkontrol. Tahun lalu pemerintah memberikan persetujuan RKAB batu bara mencapai 1,2 miliar ton. Namun realisasinya pada 2025 total produksi batu bara hanya 790 juta ton.
(Baca Katadata: Kementerian ESDM Sebut Kuota Pemangkasan RKAB Batu Bara Belum Final)