Siswa yang Lanjut Kuliah di RI Cenderung Turun Selama 2020-2024
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menghimpun angka kelanjutan kasar pendidikan tinggi di Indonesia.
Angka kelanjutan kasar pendidikan tinggi adalah persentase lulusan jenjang pendidikan menengah (SMA/SMK/MA atau sederajat) yang melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi.
Selama tahun ajaran 2020/2021 hingga 2024/2025, angka kelanjutan kasar cenderung turun, meski sempat mengantongi torehan tertinggi pada tahun ajaran 2020/2021 yang mencapai 65,87%.
Tiga tahun berikutnya, angka kelanjutan kasar konsisten mengalami penurunan.
Namun, memasuki tahun ajaran 2024/2025, persentase pelajar yang melanjutkan studi ke pendidikan tinggi naik 1,02 poin persentase dibanding periode sebelumnya, menjadi 49,02%.
“Peningkatan ini sejalan dengan laju pertumbuhan mahasiswa baru yang mencapai 3,29%, melampaui pertumbuhan lulusan SMA/SMK/MA sebesar 1,63%,” jelas Kemendiktisaintek dalam laporannya.
Menurut Kemendiktisaintek, kondisi tersebut menunjukkan secara agregat, sistem pendidikan tinggi memiliki kapasitas yang semakin baik dalam menampung lulusan pendidikan menengah.
Berdasarkan wilayah, Provinsi Banten, DI Yogyakarta, dan DKI Jakarta mencatat angka kelanjutan kasar di atas 100%, yakni 195,4%, 139,2%, dan 111,8%.
Sebaliknya, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Kalimantan Tengah memiliki angka kelanjutan kasar terendah pada tahun ajaran 2024/2025, yang masing-masing hanya 26,7% dan 26%.
“Perbedaan ini mencerminkan adanya variasi dalam akses, partisipasi, dan distribusi pendidikan tinggi di berbagai wilayah di Indonesia,” ungkap Kemendiktisaintek.
Data yang digunakan berasal dari Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) berdasarkan pelaporan perguruan tinggi di aplikasi neo feeder, yang ditarik Kemendiktisaintek pada Desember 2025.
(Baca: Penilaian Kelas Menengah terhadap Indikator Pendidikan RI Turun pada 2026)
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| PDB ADHK (Q1) | 3.447,70 | -0.77 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17.879 | +0.05 | |
| Neraca perdagangan (Mar) | 3,32 | +160.82 | |
| Ekspor Migas (Mar) | 1,28 | +18.60 | |
| Impor Migas (Mar) | 3,17 | +58.74 | |
| Ekspor (Mar) | 22,53 | +1.62 | |
| Impor (Mar) | 19,21 | -8.08 | |
| Kunjungan Wisman (Feb) | 1,16 | -2.42 | |
| Inflasi yoy (Apr) | 2,42% | -1.06 | |
| Inflasi mom (Apr) | 0,13% | -0.28 | |
| Persentase kemiskinan (Des) | 7,50% | -0.75 | |
| NTP (Apr) | 112,29 | +0.43 |