Hasil survei Katadata Insight Center (KIC) mengungkap, penilaian responden kelas menengah terhadap sejumlah indikator pendidikan di Indonesia menurun pada 2026.
Indikator ini meliputi kompetensi pengajar/guru, durasi jam pelajaran, sistem pendidikan, fasilitas pembelajaran, kurikulum pendidikan, biaya pendidikan, dan pemerataan pendidikan.
Pemerataan pendidikan—untuk keluarga miskin, disabilitas, daerah terpencil—mendapat penilaian paling rendah dengan skor 4,92 dari 10 poin. Angkanya turun dari 2025 yang mendapat 5,21.
Sebagai gambaran, skor penilaian 1 sangat buruk, sedangkan 10 sangat baik.
Tim riset KIC menyebut, penilaian kelas menengah terhadap berbagai indikator yang menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya terjadi di tengah tingginya harapan terhadap pendidikan.
"Penurunan ini mengindikasikan adanya jarak antara ekspektasi dan realitas yang dirasakan," tulis KIC dalam laporannya, Kelas Menengah di Persimpangan Masa Depan.
Berikut rincian penilaian responden kelas menengah terhadap indikator pendidikan di Indonesia pada 2025-2026:
Kompetensi pengajar/guru
Durasi jam pelajaran
Fasilitas pembelajaran (ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, dll.)
Sistem pendidikan
Kurikulum pendidikan
Biaya pendidikan
Pemerataan pendidikan (keluarga miskin, disabilitas, daerah terpencil)
(Baca: Kelas Menengah RI Lebih Percaya Sekolah Swasta untuk Pendidikan Anak)
Laporan KIC ini diluncurkan dalam acara IDE Katadata Future Forum 2026 di Ballroom Djakarta Theater, Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Hasil survei secara umum mengungkap tentang kondisi, perilaku, dan persepsi kelas menengah, yang dapat menjadi dasar dalam merumuskan strategi dan kebijakan untuk memperkuat daya tahan, mendorong pertumbuhan, serta mendukung pembangunan ekonomi dan sosial di Indonesia.
Sebanyak 1.000 responden berusia 18-60 tahun dilibatkan, terdiri atas 61,6% laki-laki dan 38,4% perempuan. Mayoritas atau 59,3% berasal dari Pulau Jawa, disusul Sumatera (19,6%), Bali-Nusa (5,9%), Kalimantan (7,6%), Sulawesi (5,7%), dan Maluku-Papua (1,9%).
Kisaran pengeluaran responden Rp2 juta sampai Rp10 juta per kapita per bulan, mengacu pada definisi kelas menengah dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Pengambilan data untuk edisi 2026 dilakukan pada kuartal IV 2025 sampai kuartal I 2026 secara online dengan metode non-probability sampling. Adapun toleransi kesalahan survei (margin of error) sekitar 3,16%.
Hasil survei lengkap KIC bertajuk Kelas Menengah di Persimpangan Masa Depan dapat diakses melalui tautan berikut.
(Baca: Alokasi Pengeluaran Kelas Menengah RI Terbesar untuk Kebutuhan Harian)