Pengeluaran untuk aneka barang dan jasa di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, menunjukkan angka Rp321.647 per kapita per bulan pada tahun 2024.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka ini mengalami penurunan turun 9,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, angka ini menempatkan Kabupaten Intan Jaya pada peringkat ke-3 di antara kabupaten/kota se-Provinsi Papua Tengah, serta peringkat ke-109 secara nasional.
(Baca: Produksi Telur Itik/Itik Manila Periode 2013-2024)
Secara historis, pengeluaran untuk aneka barang dan jasa di Kabupaten Intan Jaya mengalami fluktuasi. Pada tahun 2018, tercatat Rp228.020, kemudian turun menjadi Rp176.603 pada tahun 2019. Lalu terjadi lonjakan signifikan sebesar 95.4% pada tahun 2020 menjadi Rp345.157, namun kembali turun drastis turun 46.8% pada tahun 2021 menjadi Rp183.633. Selanjutnya, angka ini kembali naik menjadi Rp266.795 pada tahun 2022, lalu Rp354.130 pada tahun 2023, sebelum akhirnya sedikit turun di tahun 2024.
Jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Provinsi Papua Tengah, Kabupaten Mimika mencatatkan nilai pengeluaran tertinggi untuk aneka barang dan jasa pada tahun 2024, yaitu Rp533.260, diikuti oleh Kabupaten Puncak Jaya dengan Rp529.794. Kabupaten Nabire mencatatkan Rp296.826, Kabupaten Paniai Rp258.497, Kabupaten Deiyai Rp245.947, Kabupaten Dogiyai Rp211.525, dan Kabupaten Puncak Rp36.830. Pertumbuhan pengeluaran tertinggi terjadi di Kabupaten Paniai (67.3%), sementara penurunan terdalam terjadi di Kabupaten Puncak (-35.4%).
Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan di Kabupaten Intan Jaya mencapai Rp961.810 pada tahun 2024, tumbuh 61% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan mencapai Rp412.490, tumbuh 61.2% dibandingkan tahun sebelumnya.
(Baca: PDB Paritas Daya Beli (PPP) Cape Verde 2015 - 2024)
Kabupaten Puncak Jaya
Kabupaten Puncak Jaya menduduki peringkat tertinggi dalam pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan di Provinsi Papua Tengah pada tahun 2024 dengan angka mencapai Rp1.888.613. Pertumbuhan pengeluaran makanan di kabupaten ini tercatat sebesar 5.1% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, untuk pengeluaran bukan makanan, Kabupaten Puncak Jaya juga menempati peringkat teratas dengan nilai Rp919.773, meskipun mengalami penurunan turun 21.7% dibandingkan tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, total pengeluaran per kapita sebulan (makanan dan bukan makanan) di Kabupaten Puncak Jaya mencapai Rp2.808.386, menempatkannya di urutan pertama di provinsi tersebut, namun mengalami penurunan turun 7.6% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kabupaten Mimika
Kabupaten Mimika menunjukkan dinamika berbeda. Pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan di kabupaten ini mencapai Rp885.603 pada tahun 2024, mengalami pertumbuhan sebesar 16.4% dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk pengeluaran bukan makanan, Kabupaten Mimika mencatatkan angka Rp850.183, tumbuh 12.7% dibandingkan tahun sebelumnya. Total pengeluaran per kapita sebulan (makanan dan bukan makanan) di Kabupaten Mimika mencapai Rp1.735.786, menempatkannya di urutan kedua di provinsi tersebut, namun mengalami penurunan signifikan turun 21.9% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kabupaten Nabire
Kabupaten Nabire mencatatkan pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan sebesar Rp795.645 pada tahun 2024, tumbuh 8.1% dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk pengeluaran bukan makanan, Kabupaten Nabire mencatatkan angka Rp840.637, mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi sebesar 23.8% dibandingkan tahun sebelumnya. Total pengeluaran per kapita sebulan (makanan dan bukan makanan) di Kabupaten Nabire mencapai Rp1.636.282, menempatkannya di urutan ketiga di provinsi tersebut, dan mengalami penurunan turun 9.7% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kabupaten Intan Jaya
Kabupaten Intan Jaya, meskipun memiliki pertumbuhan yang signifikan dalam pengeluaran makanan (61%) dan bukan makanan (61.2%), secara keseluruhan menunjukkan total pengeluaran per kapita sebulan (makanan dan bukan makanan) sebesar Rp1.374.300 pada tahun 2024. Angka ini menempatkannya di urutan keempat di provinsi tersebut, namun mengalami penurunan turun 42.4% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan dalam pengeluaran individual untuk makanan dan bukan makanan, faktor lain mungkin mempengaruhi total pengeluaran secara keseluruhan di kabupaten ini.