Badan Pusat Statistik mencatat pengeluaran per kapita per bulan untuk rokok dan tembakau di Kota Yogyakarta mencapai 120881 Rupiah pada tahun 2024. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 17,1 persen dibandingkan tahun 2023, dengan selisih penambahan sebesar 17646 Rupiah per orang setiap bulannya. Nilai ini menjadi pengeluaran tertinggi sepanjang catatan periode 2018 sampai 2024 untuk wilayah ini.
(Baca: Statistik Populasi Sapi Potong Jantan yang Bisa Dipotong Periode 2013-2025)
Sepanjang periode tujuh tahun catatan, pengeluaran rokok dan tembakau di wilayah ini mengalami pergerakan naik turun. Pada tahun 2020 terjadi kenaikan 9 persen, kemudian tahun 2021 turun sedikit sebesar 1,9 persen. Tahun 2022 kembali naik sebesar 10,5 persen, lalu tahun 2023 turun sedikit sebesar 0,7 persen sebelum akhirnya mencatatkan kenaikan terbesar pada tahun 2024.
Nilai pengeluaran rokok dan tembakau tahun 2024 setara dengan sekitar 29,2 persen dari rata-rata pengeluaran per kapita untuk aneka barang jasa. Nilai ini juga lebih besar dibandingkan pengeluaran bulanan untuk kecantikan, perawatan pribadi, serta sabun mandi per kapita. Bahkan nilai pengeluaran rokok ini mendekati 30 persen dari total pengeluaran masyarakat untuk makanan jadi setiap bulannya.
Berdasarkan perbandingan se-provinsi DI Yogyakarta, Kota Yogyakarta berada di peringkat kedua untuk besaran pengeluaran rokok dan tembakau tahun 2024. Peringkat pertama ditempati oleh Kabupaten Sleman dengan nilai pengeluaran 142067 Rupiah per kapita per bulan, disusul kemudian Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunung Kidul, dan terakhir Kabupaten Kulonprogo. Secara nasional, Kota Yogyakarta berada di urutan 333 dari seluruh kabupaten kota di Indonesia.
Untuk pertumbuhan pengeluaran rokok tahun 2024, Kota Yogyakarta mencatatkan kenaikan tertinggi dibandingkan seluruh wilayah lain di DI Yogyakarta. Kabupaten Sleman tumbuh 14,2 persen, Kabupaten Bantul tumbuh 4 persen, Kabupaten Gunung Kidul tumbuh 9,9 persen, dan Kabupaten Kulonprogo hanya tumbuh 1,1 persen. Peringkat masing-masing wilayah ini tidak mengalami perubahan dibandingkan catatan tahun sebelumnya.
Kabupaten Sleman
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan di Jambi 2024)
Badan Pusat Statistik mencatat Kabupaten Sleman secara konsisten menempati peringkat pertama di DI Yogyakarta untuk seluruh kategori pengeluaran per kapita. Pada tahun 2024, total pengeluaran per kapita per bulan untuk makanan mencapai 884007 Rupiah, sedangkan pengeluaran bukan makanan mencapai 1297903 Rupiah. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan pengeluaran makanan sebesar 18,9 persen dan pengeluaran bukan makanan sebesar 24,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai total pengeluaran masyarakat di wilayah ini hampir 2 kali lipat dibandingkan nilai pengeluaran di Kabupaten Kulonprogo.
Kabupaten Bantul
Kabupaten Bantul secara konsisten berada di peringkat kedua se-provinsi untuk besaran pengeluaran per kapita masyarakat. Pada tahun 2024, pengeluaran per kapita untuk makanan mencapai 753854 Rupiah per bulan, dengan pertumbuhan 18,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu pengeluaran bukan makanan di wilayah ini mencapai 976696 Rupiah per bulan dengan pertumbuhan 18,9 persen. Selisih nilai pengeluaran total antara Kabupaten Bantul dengan Sleman mencapai sekitar 450 ribu Rupiah per kapita setiap bulannya.
Kabupaten Gunung Kidul
Kabupaten Gunung Kidul mencatatkan pertumbuhan pengeluaran bukan makanan tertinggi se-provinsi pada tahun 2024 yaitu sebesar 42,1 persen. Walaupun demikian secara nilai absolut, wilayah ini masih berada di peringkat empat untuk besaran pengeluaran bukan makanan dengan nilai 574926 Rupiah per kapita per bulan. Untuk pengeluaran makanan, wilayah ini mencatatkan pertumbuhan 26 persen menjadi 588557 Rupiah per bulan, menjadikannya wilayah dengan pertumbuhan pengeluaran makanan tertinggi di DI Yogyakarta tahun 2024.
Kabupaten Kulonprogo
Kabupaten Kulonprogo menempati urutan terakhir se-provinsi DI Yogyakarta untuk besaran pengeluaran rokok dan tembakau, serta hampir seluruh kategori pengeluaran lainnya. Pada tahun 2024, pengeluaran makanan per kapita di wilayah ini mencapai 535501 Rupiah per bulan dengan pertumbuhan 8,6 persen. Sedangkan pengeluaran bukan makanan mencapai 616788 Rupiah per bulan dengan pertumbuhan 7,1 persen. Kedua angka pertumbuhan ini merupakan yang terendah dibandingkan seluruh wilayah kabupaten dan kota di provinsi DI Yogyakarta.