Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengeluaran per kapita sebulan untuk rokok dan tembakau di Kabupaten Takalar tahun 2024 mencapai 99963 rupiah, mengalami penurunan sebesar 12.2 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 113869 rupiah. Penurunan ini merupakan penurunan terbesar yang terjadi pada periode 2018 hingga 2024, setelah sebelumnya terjadi penurunan sebesar 6.8 persen pada tahun 2020 dan 6.5 persen pada tahun 2021.
(Baca: PDB Paritas Daya Beli (PPP) Republik Persatuan Tanzania 2015 - 2024)
Data historis dari 2018 hingga 2024 menunjukkan fluktuasi pengeluaran rokok dan tembakau di Kabupaten Takalar. Tahun 2018, pengeluaran mencapai 94203 rupiah, naik sedikit menjadi 102656 rupiah pada tahun 2019, sebelum turun menjadi 95642 rupiah pada 2020 dan 89429 rupiah pada 2021. Tahun 2022 menjadi tahun dengan pengeluaran tertinggi selama periode tersebut, yaitu sebesar 114880 rupiah, dengan pertumbuhan sebesar 28.5 persen dibandingkan tahun 2021. Setelah itu, pengeluaran turun sedikit menjadi 113869 rupiah pada 2023 sebelum mengalami penurunan signifikan pada tahun 2024. Nilai pengeluaran tahun 2024 juga berada di bawah rata-rata tiga tahun terakhir (2022-2024) yang sebesar sekitar 109570 rupiah, menunjukkan bahwa konsumsi rokok dan tembakau di Kabupaten Takalar mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Dibandingkan dengan kategori pengeluaran lain, pengeluaran rokok dan tembakau di Kabupaten Takalar tahun 2024 lebih tinggi daripada pengeluaran untuk kecantikan (26173 rupiah), sabun mandi (39298 rupiah), dan perawatan pribadi (53487 rupiah), namun lebih rendah daripada pengeluaran untuk makanan jadi (147189 rupiah) dan rata-rata pengeluaran total aneka barang dan jasa (151331 rupiah). Proporsi pengeluaran rokok dan tembakau terhadap total pengeluaran barang dan jasa mencapai sekitar 66 persen, menunjukkan bahwa kategori ini menjadi bagian penting dari pengeluaran masyarakat Kabupaten Takalar.
Dalam perbandingan dengan kabupaten/kota lain di Sulawesi Selatan, Kabupaten Takalar menempati peringkat ke-21 dari 24 wilayah untuk pengeluaran rokok dan tembakau tahun 2024. Lima kabupaten/kota dengan pengeluaran tertinggi di provinsi ini adalah Kabupaten Luwu Timur (169886 rupiah, pertumbuhan 11.8 persen), Kabupaten Sidenreng Rappang (158046 rupiah, penurunan 1.4 persen), Kota Palopo (154709 rupiah, pertumbuhan 19.2 persen), Kabupaten Luwu Utara (151190 rupiah, pertumbuhan 5.9 persen), dan Kabupaten Gowa (135562 rupiah, pertumbuhan 18.6 persen). Peringkat Kabupaten Takalar tidak mengalami perubahan dibandingkan tahun sebelumnya, tetap berada di kelompok bawah provinsi.
Kota Makassar
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Kecantikan di Kab. Seram Bagian Timur 2018 - 2024)
Kota Makassar menjadi kabupaten/kota dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan tertinggi di Sulawesi Selatan tahun 2024, yaitu sebesar 1012020 rupiah, dengan pertumbuhan 8.9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk pengeluaran total makanan dan bukan makanan, Kota Makassar menempati peringkat pertama dengan nilai 1803702 rupiah, meskipun mengalami penurunan sebesar 3.6 persen dari tahun sebelumnya. Pengeluaran makanan per kapita sebulan di Kota Makassar mencapai 791682 rupiah, dengan pertumbuhan 5.7 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yang juga menjadi tertinggi di provinsi. Dibandingkan dengan Kabupaten Takalar, pengeluaran bukan makanan Kota Makassar lebih dari dua kali lipat, menunjukkan tingkat konsumsi barang dan jasa non makanan yang jauh lebih tinggi di ibukota provinsi ini, yang didukung oleh jumlah penduduk yang lebih besar dan akses ke berbagai jenis barang jasa yang lebih lengkap.
Kota Parepare
Kota Parepare menempati peringkat kedua untuk rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan di Sulawesi Selatan tahun 2024, dengan nilai 914616 rupiah dan pertumbuhan sebesar 28.5 persen yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk pengeluaran total makanan dan bukan makanan, Kota Parepare berada di peringkat ketiga dengan nilai 1535908 rupiah, mengalami penurunan sebesar 11.2 persen dari tahun sebelumnya. Pengeluaran makanan per kapita sebulan di Kota Parepare mencapai 621292 rupiah, dengan pertumbuhan 5.2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dibandingkan dengan Kabupaten Takalar, pengeluaran bukan makanan Kota Parepare hampir dua kali lipat, menunjukkan bahwa masyarakat Kota Parepare memiliki daya beli yang lebih tinggi untuk barang dan jasa non makanan dibandingkan masyarakat Kabupaten Takalar, yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi yang lebih ramai di kota ini sebagai pusat perdagangan wilayah selatan Sulawesi Selatan.
Kabupaten Gowa
Kabupaten Gowa menempati peringkat kesembilan untuk rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan di Sulawesi Selatan tahun 2024, dengan nilai 620362 rupiah dan pertumbuhan 7.9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk pengeluaran total makanan dan bukan makanan, Kabupaten Gowa berada di peringkat kesepuluh dengan nilai 1279635 rupiah, mengalami penurunan sebesar 1.9 persen dari tahun sebelumnya. Pengeluaran makanan per kapita sebulan di Kabupaten Gowa mencapai 659273 rupiah, dengan pertumbuhan 20.5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yang merupakan pertumbuhan cukup signifikan dibandingkan rata-rata provinsi. Dibandingkan dengan Kabupaten Takalar, pengeluaran bukan makanan Kabupaten Gowa sekitar 18 persen lebih tinggi, dan pengeluaran makanan sekitar 24 persen lebih tinggi, menunjukkan bahwa masyarakat Kabupaten Gowa memiliki daya beli yang lebih baik untuk kedua kategori pengeluaran tersebut, yang didukung oleh dekatnya dengan ibukota provinsi dan berbagai sektor ekonomi yang berkembang di wilayah ini.
Kabupaten Bantaeng
Kabupaten Bantaeng menempati peringkat kesepuluh untuk rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan di Sulawesi Selatan tahun 2024, dengan nilai 599915 rupiah dan pertumbuhan sebesar 40.5 persen yang sangat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk pengeluaran total makanan dan bukan makanan, Kabupaten Bantaeng berada di peringkat kedelapan dengan nilai 1359035 rupiah, mengalami peningkatan sebesar 14.5 persen dari tahun sebelumnya. Pengeluaran makanan per kapita sebulan di Kabupaten Bantaeng mencapai 759120 rupiah, dengan pertumbuhan 34 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yang merupakan pertumbuhan tertinggi di provinsi untuk kategori ini. Dibandingkan dengan Kabupaten Takalar, pengeluaran bukan makanan Kabupaten Bantaeng sekitar 14 persen lebih tinggi, dan pengeluaran makanan hampir 43 persen lebih tinggi, menunjukkan bahwa masyarakat Kabupaten Bantaeng memiliki daya beli yang lebih baik untuk kedua kategori pengeluaran tersebut, yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh pertumbuhan sektor pertanian dan pariwisata di wilayah ini dalam beberapa tahun terakhir.