Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengeluaran per kapita per bulan untuk makanan dan minuman jadi di Kabupaten Musi Banyuasin mencapai 184680 rupiah pada tahun 2024. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 33,2 persen dibandingkan tahun 2023, dengan selisih penambahan sebesar 46081 rupiah per orang setiap bulannya. Pencapaian pada tahun 2024 ini juga menjadi nilai pengeluaran tertinggi yang tercatat sepanjang periode data tahun 2018 hingga 2024 untuk wilayah tersebut.
(Baca: Jumlah Sekolah SMA di Papua | 2024)
Sepanjang tujuh tahun periode pencatatan, pengeluaran kategori ini mengalami pergerakan naik turun. Pada tahun 2019 tercatat sedikit turun 1,7 persen dari tahun sebelumnya, kemudian naik secara bertahap hingga tahun 2021. Tahun 2022 kembali tercatat sedikit turun sebesar 3,2 persen, sebelum kembali naik selama dua tahun berturut-turut dengan peningkatan yang semakin besar setiap periodenya.
Berdasarkan perbandingan di tingkat provinsi Sumatera Selatan, Kabupaten Musi Banyuasin menempati urutan ketiga tertinggi untuk kategori pengeluaran makanan dan minuman jadi tahun 2024. Di atasnya hanya terdapat Kota Palembang dengan nilai 260575 rupiah dan Kabupaten Banyuasin dengan nilai 201407 rupiah. Secara nasional, wilayah ini menempati urutan 263 dari seluruh kabupaten kota di Indonesia, dan urutan 79 di seluruh wilayah pulau Sumatera.
Pengeluaran makanan dan minuman jadi ini menyumbang sekitar 11,8 persen dari total pengeluaran per kapita per bulan masyarakat Kabupaten Musi Banyuasin yang mencapai 1560976 rupiah pada tahun 2024. Apabila dibandingkan dengan kategori pengeluaran lain, nilai ini masih berada di bawah pengeluaran rokok dan tembakau yang mencapai 146647 rupiah, namun lebih tinggi dibandingkan pengeluaran untuk kecantikan sebesar 26582 rupiah.
Dari seluruh kabupaten kota di Sumatera Selatan, hanya tiga wilayah yang mencatatkan pertumbuhan pengeluaran makanan dan minuman jadi di atas 20 persen pada tahun 2024. Selain Kabupaten Musi Banyuasin dengan 33,2 persen, terdapat juga Kabupaten Ogan Ilir dengan 28,1 persen dan Kabupaten Muara Enim dengan 22,2 persen. Sebagian besar wilayah lain di provinsi ini justru mencatatkan penurunan nilai pada kategori yang sama pada periode yang sama.
Pengeluaran Non Makanan
(Baca: 0,02% Penduduk di Kabupaten Kendal Beragama Budha)
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total pengeluaran non makanan per kapita per bulan Kabupaten Musi Banyuasin mencapai 746855 rupiah pada tahun 2024. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 17,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan menempatkan wilayah ini pada urutan kedua tertinggi di seluruh Sumatera Selatan. Hanya Kota Palembang yang memiliki nilai pengeluaran non makanan lebih tinggi, yaitu sebesar 954435 rupiah per kapita per bulan.
Total Pengeluaran Masyarakat
Total pengeluaran seluruh kategori per kapita per bulan masyarakat Kabupaten Musi Banyuasin tercatat sebesar 1560976 rupiah pada tahun 2024. Nilai ini mengalami kenaikan sebesar 15 persen dibandingkan tahun 2023, posisi ini juga tetap di urutan kedua seprovinsi. Kenaikan ini lebih tinggi dibandingkan Kota Palembang yang hanya mencatatkan kenaikan 3,2 persen, serta mengungguli peningkatan yang terjadi di Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Lahat.
Pengeluaran Kategori Makanan Umum
Untuk kategori pengeluaran makanan secara keseluruhan, Kabupaten Musi Banyuasin tercatat memiliki nilai 814121 rupiah per kapita per bulan tahun 2024. Angka ini menempatkan wilayah ini di urutan ketiga seprovinsi, dengan kenaikan sebesar 12,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Urutan pertama dan kedua masih dipegang oleh Kota Palembang dan Kabupaten Banyuasin, dengan nilai masing-masing 873570 rupiah dan 834067 rupiah per kapita per bulan.
Perbandingan Pertumbuhan Antar Wilayah
Kenaikan pengeluaran makanan dan minuman jadi sebesar 33,2 persen yang terjadi di Kabupaten Musi Banyuasin merupakan pertumbuhan tertinggi di seluruh Sumatera Selatan pada tahun 2024. Angka ini jauh melampaui rata-rata pertumbuhan provinsi, dan menjadi satu-satunya wilayah yang mencatatkan peningkatan di atas 30 persen. Sebagian besar wilayah lain bahkan mengalami penurunan pada kategori yang sama, seperti Kota Palembang yang turun 1,7 persen dan Kabupaten Banyuasin yang turun 7,6 persen.