Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengeluaran untuk aneka barang dan jasa per kapita sebulan di Kabupaten Jombang tahun 2024 sebesar 185.363 rupiah, mengalami penurunan sebesar 14,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selisih pengeluaran dengan tahun 2023 mencapai minus 30.729,7 rupiah, di mana nilai pengeluaran tahun 2023 sebesar 216.092 rupiah. Data ini menunjukkan penurunan yang cukup signifikan setelah mengalami kenaikan sebesar 10,6 persen pada tahun 2023 dibandingkan tahun 2022.
(Baca: Cek Harga Emas Hari Ini Kamis, 19 Maret 2026: Naik ke Rp3 Juta)
Bandingkan dengan pengeluaran total masyarakat Kabupaten Jombang tahun 2024, pengeluaran untuk aneka barang dan jasa menyumbang sebagian kecil dari total pengeluaran per kapita sebulan yang mencapai 1.158.018 rupiah. Pengeluaran untuk makanan sebesar 642.605 rupiah dan bukan makanan sebesar 515.414 rupiah, sehingga pengeluaran aneka barang dan jasa hanya sekitar 15,9 persen dari total pengeluaran masyarakat.
Melihat data historis dari tahun 2018 hingga 2024, pengeluaran untuk aneka barang dan jasa di Kabupaten Jombang mengalami fluktuasi yang cukup jelas. Tahun 2018 nilai pengeluaran sebesar 153.891 rupiah, naik menjadi 192.624 rupiah pada tahun 2019 dengan pertumbuhan 25,2 persen, lalu naik sedikit menjadi 205.025 rupiah pada tahun 2020 dengan pertumbuhan 6,4 persen. Tahun 2021 mengalami penurunan sebesar 5,9 persen menjadi 192.837 rupiah, naik sedikit menjadi 195.328 rupiah pada tahun 2022 dengan pertumbuhan 1,3 persen, naik menjadi 216.092 rupiah pada tahun 2023 dengan pertumbuhan 10,6 persen, dan turun menjadi 185.363 rupiah pada tahun 2024. Pengeluaran tertinggi terjadi pada tahun 2023, sedangkan terendahnya pada tahun 2018.
Berdasarkan data perbandingan dari BPS, Kabupaten Jombang menempati peringkat ke-29 di antara kabupaten/kota seprovinsi Jawa Timur untuk pengeluaran aneka barang dan jasa tahun 2024. Peringkat ini lebih rendah dibandingkan beberapa kabupaten/kota lain seperti Kota Surabaya yang berada di peringkat pertama dengan pengeluaran sebesar 723.548 rupiah, Kota Madiun di peringkat kedua dengan 444.047 rupiah, Kota Malang di peringkat ketiga dengan 419.184 rupiah, Kabupaten Situbondo di peringkat keempat dengan 418.514 rupiah, dan Kota Pasuruan di peringkat kelima dengan 407.139 rupiah. Kota Surabaya mengalami kenaikan pertumbuhan sebesar 18,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan Kota Madiun mengalami penurunan sebesar 14 persen.
Kota Surabaya
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan di Kota Surabaya tahun 2024 sebesar 1.061.445 rupiah, naik sebesar 29,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 819.085 rupiah. Pengeluaran untuk bukan makanan sebesar 1.541.006 rupiah, naik sebesar 34 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 1.149.687 rupiah. Total pengeluaran per kapita sebulan makanan dan bukan makanan sebesar 2.602.451 rupiah, mengalami penurunan sebesar 2,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 2.663.433 rupiah. Kota Surabaya menempati peringkat pertama di Jawa Timur untuk ketiga indikator pengeluaran ini, menunjukkan bahwa masyarakat Kota Surabaya memiliki daya beli yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lain di provinsi ini.
(Baca: BPS: Jumlah Penduduk Miskin di Papua Barat Turun 4,21%(Data Desember 2025))
Kabupaten Sidoarjo
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan di Kabupaten Sidoarjo tahun 2024 sebesar 881.851 rupiah, naik sebesar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 759.918 rupiah. Pengeluaran untuk bukan makanan sebesar 1.077.404 rupiah, naik sebesar 14,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 939.077 rupiah. Total pengeluaran per kapita sebulan makanan dan bukan makanan sebesar 1.959.255 rupiah, mengalami penurunan sebesar 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 2.106.829 rupiah. Kabupaten Sidoarjo menempati peringkat keempat di Jawa Timur untuk pengeluaran makanan, peringkat keempat untuk pengeluaran bukan makanan, dan peringkat ketiga untuk total pengeluaran, menunjukkan posisi yang cukup kuat dalam daya beli masyarakat di provinsi ini.
Kota Malang
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan di Kota Malang tahun 2024 sebesar 738.690 rupiah, naik sebesar 3,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 715.314 rupiah. Pengeluaran untuk bukan makanan sebesar 1.216.228 rupiah, naik sebesar 4,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 1.163.347 rupiah. Total pengeluaran per kapita sebulan makanan dan bukan makanan sebesar 1.954.918 rupiah, mengalami penurunan sebesar 10,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 2.192.106 rupiah. Kota Malang menempati peringkat kesepuluh di Jawa Timur untuk pengeluaran makanan, peringkat kedua untuk pengeluaran bukan makanan, dan peringkat keempat untuk total pengeluaran, menunjukkan bahwa masyarakat Kota Malang lebih banyak mengeluarkan uang untuk kebutuhan bukan makanan dibandingkan makanan.
Kabupaten Banyuwangi
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan di Kabupaten Banyuwangi tahun 2024 sebesar 794.027 rupiah, naik sebesar 39,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 567.841 rupiah. Pengeluaran untuk bukan makanan sebesar 722.265 rupiah, naik sebesar 37,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 526.331 rupiah. Total pengeluaran per kapita sebulan makanan dan bukan makanan sebesar 1.516.292 rupiah, naik sebesar 5,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 1.438.223 rupiah. Kabupaten Banyuwangi menempati peringkat ketujuh di Jawa Timur untuk pengeluaran makanan, peringkat duabelas untuk pengeluaran bukan makanan, dan peringkat sebelas untuk total pengeluaran, menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam daya beli masyarakat di wilayah ini.