Badan Pusat Statistik mencatat pengeluaran per kapita per bulan untuk rokok dan tembakau di Kabupaten Kutai Barat pada tahun 2024 mencapai 166700 Rupiah. Nilai ini mengalami kenaikan sebesar 11,2 persen dibandingkan tahun 2023, dengan penambahan nilai sebesar 16809 Rupiah per orang setiap bulannya. Pencapaian tahun 2024 ini menjadi nilai pengeluaran tertinggi yang tercatat sepanjang periode pengamatan mulai tahun 2018 hingga 2024.
(Baca: Statistik Panjang Jalan Provinsi Periode 2013-2024)
Jika dibandingkan dengan total pengeluaran masyarakat, biaya untuk rokok dan tembakau ini menempati porsi sebesar 9,28 persen dari total pengeluaran per kapita per bulan. Nilai ini lebih besar dibandingkan pengeluaran untuk kecantikan sebesar 51824 Rupiah, dan juga melebihi pengeluaran untuk perawatan pribadi sebesar 70629 Rupiah per kapita setiap bulannya. Pengeluaran rokok bahkan hampir setara dengan 56 persen dari total pengeluaran untuk makanan jadi masyarakat setempat.
Sepanjang tujuh tahun pengamatan, pengeluaran rokok dan tembakau di wilayah ini menunjukkan pergerakan yang terus naik meskipun sempat terjadi satu kali penurunan. Tahun 2018 tercatat sebesar 133625 Rupiah, kemudian naik pada tahun 2019, lalu mengalami kenaikan sedikit pada dua tahun berikutnya, naik kembali pada tahun 2022, kemudian turun sedikit pada tahun 2023 sebelum akhirnya naik signifikan pada tahun 2024. Satu-satunya penurunan terjadi pada tahun 2023 sebesar 5,5 persen, yang menjadi satu-satunya anomali penurunan dalam seluruh periode data.
Berdasarkan data perbandingan seprovinsi Kalimantan Timur, Kabupaten Kutai Barat menempati urutan ke 4 dari 10 kabupaten dan kota untuk besaran pengeluaran rokok dan tembakau tahun 2024. Di atas wilayah ini secara berturut-turut terdapat Kabupaten Kutai Timur dengan pengeluaran 200697 Rupiah, Kabupaten Berau 196031 Rupiah, dan Kabupaten Paser 177977 Rupiah. Secara nasional, wilayah ini menempati urutan ke 74 dari seluruh kabupaten kota di Indonesia, dan urutan ke 13 pada tingkat pulau Kalimantan.
Kabupaten Kutai Timur
Kabupaten Kutai Timur menempati urutan pertama seprovinsi Kalimantan Timur untuk besaran pengeluaran rokok dan tembakau tahun 2024 dengan nilai 200697 Rupiah per kapita per bulan. Wilayah ini juga mencatat pengeluaran total per kapita sebesar 2163803 Rupiah, dengan pertumbuhan pengeluaran makanan sebesar 16,2 persen pada tahun terakhir. Untuk pengeluaran bukan makanan, wilayah ini berada di urutan ke 4 seprovinsi dengan pertumbuhan 23,8 persen, menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi dibandingkan seluruh wilayah di Kalimantan Timur.
(Baca: Statistik Panjang Jalan Nasional Periode 2013-2024)
Kota Balikpapan
Kota Balikpapan menempati urutan pertama seprovinsi untuk total pengeluaran per kapita masyarakat, dengan nilai total mencapai 2460917 Rupiah per bulan. Meskipun menjadi wilayah dengan pengeluaran masyarakat terbesar, pengeluaran untuk rokok dan tembakau hanya berada di urutan ke 6 seprovinsi dengan nilai 154953 Rupiah. Wilayah ini mencatat pertumbuhan pengeluaran makanan sebesar 13,7 persen dan pertumbuhan pengeluaran bukan makanan sebesar 22,7 persen pada tahun 2024.
Kabupaten Berau
Kabupaten Berau menempati urutan kedua seprovinsi untuk pengeluaran rokok dan tembakau tahun 2024 dengan nilai 196031 Rupiah per kapita per bulan. Wilayah ini mencatat kenaikan pengeluaran rokok sebesar 14,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, salah satu kenaikan tertinggi di provinsi ini. Untuk total pengeluaran masyarakat, Kabupaten Berau berada di urutan ke 5 seprovinsi, dengan pertumbuhan pengeluaran makanan sebesar 5 persen dan penurunan total pengeluaran umum sebesar 14,1 persen pada tahun terakhir.
Kabupaten Paser
Kabupaten Paser berada di urutan ketiga seprovinsi untuk pengeluaran rokok dan tembakau dengan nilai 177977 Rupiah pada tahun 2024, dengan kenaikan sebesar 6,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Wilayah ini mencatat pengeluaran makanan per kapita sebesar 825441 Rupiah per bulan dan berada di urutan ke 9 seprovinsi untuk kategori ini. Untuk total pengeluaran masyarakat umum, Kabupaten Paser menempati urutan ke 9 seprovinsi dengan penurunan sebesar 10,2 persen pada tahun terakhir.