Badan Pusat Statistik mencatat pengeluaran per kapita per bulan untuk rokok dan tembakau di Kabupaten Teluk Bintuni pada tahun 2024 mencapai 191703 rupiah. Angka ini mengalami penurunan sebesar 24,6 persen dibandingkan tahun 2023 yang tercatat sebesar 254359 rupiah. Sepanjang periode 2018 hingga 2024, catatan pengeluaran tertinggi untuk kategori ini terjadi pada tahun 2023, sebelum akhirnya turun cukup dalam pada tahun terakhir.
(Baca: Pengeluaran Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya di Kabupaten Bojonegoro Bulan April Naik 0,09%)
Pengeluaran untuk rokok dan tembakau ini setara dengan 53,5 persen dari rata-rata pengeluaran makanan jadi per kapita per bulan masyarakat setempat. Nilai ini juga melampaui pengeluaran bulanan untuk sabun mandi, perawatan pribadi, serta kategori kecantikan. Secara total, pengeluaran rokok dan tembakau menyumbang 10,4 persen dari total rata-rata pengeluaran aneka barang dan jasa per kapita setiap bulannya.
Sepanjang tujuh tahun data tercatat, pengeluaran rokok dan tembakau di wilayah ini mengalami pergerakan naik turun. Setelah terus naik pada periode 2018 hingga 2020, angka ini turun sedikit pada tahun 2021, lalu naik sedikit pada tahun 2022, sebelum mencapai pengeluaran tertinggi pada 2023. Penurunan 24,6 persen pada tahun 2024 merupakan penurunan terbesar yang tercatat sepanjang periode pengamatan.
Berdasarkan perbandingan se-provinsi Papua Barat, Kabupaten Teluk Bintuni menempati urutan ketiga untuk besaran pengeluaran rokok dan tembakau tahun 2024. Di atasnya terdapat Kabupaten Manokwari dengan pengeluaran 214177 rupiah dan Kabupaten Manokwari Selatan sebesar 195349 rupiah. Secara nasional, wilayah ini menempati urutan ke 29 dari seluruh kabupaten kota di Indonesia untuk kategori pengeluaran yang sama.
Dari seluruh kabupaten di Papua Barat, hanya tiga wilayah yang mencatat penurunan pengeluaran rokok dan tembakau pada tahun 2024. Selain Kabupaten Teluk Bintuni, penurunan juga terjadi di Kabupaten Manokwari Selatan sebesar 4,2 persen dan Kabupaten Pegunungan Arfak sebesar 12,6 persen. Sedangkan empat kabupaten lain mencatat kenaikan pengeluaran pada tahun yang sama, dengan kenaikan tertinggi terjadi di Kabupaten Manokwari sebesar 16,9 persen.
Kabupaten Teluk Bintuni
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Perawatan Kulit Kab. Sidenreng Rappang | 2024)
Untuk total pengeluaran per kapita gabungan makanan dan bukan makanan, Kabupaten Teluk Bintuni menempati urutan kedua se-provinsi Papua Barat pada tahun 2024 dengan nilai 1832369 rupiah. Angka ini mengalami penurunan sebesar 27,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikannya penurunan terbesar dibandingkan seluruh kabupaten lain di provinsi ini. Sementara itu untuk kategori pengeluaran makanan saja, wilayah ini justru menempati urutan pertama se-provinsi dengan nilai 948827 rupiah, dan mengalami kenaikan 8,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kabupaten Manokwari
Kabupaten Manokwari sebagai ibukota provinsi menempati urutan pertama untuk total pengeluaran gabungan makanan dan bukan makanan sebesar 1832890 rupiah per kapita per bulan. Meskipun mencatat penurunan 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya, wilayah ini tetap mempertahankan posisi teratas. Untuk kategori pengeluaran makanan, Manokwari berada di urutan ketiga se-provinsi dengan nilai 905866 rupiah, dan mencatat kenaikan 17,5 persen pada tahun 2024.
Kabupaten Manokwari Selatan
Kabupaten Manokwari Selatan menempati urutan ketiga untuk total pengeluaran gabungan makanan dan bukan makanan pada tahun 2024 dengan nilai 1782389 rupiah. Wilayah ini mencatat penurunan 13,4 persen untuk kategori gabungan, namun justru mencatat kenaikan tertinggi untuk pengeluaran makanan sebesar 17,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk pengeluaran bukan makanan, wilayah ini berada di urutan ketiga dengan pertumbuhan 55,2 persen, menjadi pertumbuhan tertinggi se-provinsi pada kategori tersebut.
Kabupaten Fak Fak
Kabupaten Fak Fak menempati urutan kelima untuk total pengeluaran gabungan makanan dan bukan makanan dengan nilai 1512437 rupiah per kapita per bulan. Wilayah ini mencatat penurunan 14,3 persen untuk kategori gabungan, dan hanya mencatat kenaikan sedikit sebesar 0,8 persen untuk kategori pengeluaran makanan. Untuk pengeluaran bukan makanan, wilayah ini mencatat penurunan 1,9 persen, menjadikannya satu-satunya wilayah selain Pegunungan Arfak yang mengalami penurunan pada kategori tersebut.