- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 mencatatkan defisit sebesar US$ 450 juta. Angka ini menunjukkan perbaikan dibanding Mei 2026 yang tercatat defisit US$ 1,61 miliar, atau tumbuh 72,02 persen secara bulanan. Secara tahunan dibanding Juni 2025, posisi neraca mengalami kontraksi sebesar 110,88 persen dari sebelumnya mencatatkan surplus.
Badan Pusat Statistik mencatat nilai defisit Juni 2026 ini masih jauh dari rekor terburuk neraca perdagangan Indonesia yang tercatat pada April 2019 turun US$ 2,33 miliar. Sementara rekor surplus tertinggi sepanjang sejarah data masih dipegang periode April 2022 dengan nilai US$ 7,58 miliar, yang belum dapat tercapai kembali hingga saat ini.
Badan Pusat Statistik mencatat pergerakan neraca perdagangan sepanjang 12 bulan terakhir menunjukkan fluktuasi yang sangat tajam. Penurunan terbesar terjadi pada Mei 2026 ketika neraca terjun dari surplus kecil US$ 89 juta menjadi defisit US$ 1,61 miliar, yang didorong oleh lonjakan impor hampir 29 persen pada bulan tersebut. Sebelumnya, lonjakan surplus terbesar tercatat pada Maret 2026 dengan pertumbuhan 160,82 persen secara bulanan.
Badan Pusat Statistik mencatat hingga paruh pertama 2026, akumulasi neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus total sebesar US$ 3,58 miliar. Surplus tertinggi pada semester ini tercatat pada Maret 2026 dengan nilai US$ 3,32 miliar, yang menjadi penopang utama posisi akumulasi tetap positif meskipun dua bulan terakhir mencatatkan defisit.
(Baca: Jumlah Perceraian Jambi 230 Kasus Data per 2024)
Badan Pusat Statistik mencatat pada Juni 2026, ekspor non-migas tumbuh 8,68 persen secara bulanan dan 9,26 persen secara tahunan menjadi US$ 24,39 miliar. Sebaliknya ekspor migas meskipun naik 40,52 persen secara bulanan, masih mencatatkan kontraksi 4,03 persen tahunan. Sepanjang semester pertama 2026, ekspor non-migas mendominasi 95,57 persen dari total nilai ekspor nasional.
Badan Pusat Statistik mencatat defisit neraca migas menjadi beban utama posisi perdagangan nasional, dengan nilai defisit mencapai US$ 3,49 miliar pada Juni 2026. Defisit ini hanya sedikit membaik dibanding rekor terburuk pada Mei 2026, sementara surplus neraca non-migas yang mencapai US$ 3,04 miliar belum mampu menutupi seluruh kekurangan dari sektor migas.
Badan Pusat Statistik mencatat pola perdagangan semester pertama 2026 menunjukkan bahwa kinerja ekspor manufaktur dan komoditas non-migas tetap menjadi penyangga utama perekonomian luar negeri. Namun beban impor migas yang terus tinggi menjadi resiko utama, yang sewaktu-waktu dapat menyeret neraca perdagangan nasional masuk ke zona defisit yang lebih dalam pada bulan-bulan berikutnya.
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Jul) | 2,88% | -0.46 | |
| Inflasi mom (Jul) | -0,14% | -0.58 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Des) | 7,50% | -0.75 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 18.037 | +0.29 | |
| PDB ADHK (Q1) | 3.447,70 | -0.77 | |
| Neraca perdagangan (Jun) | -450,50 | -72.02 | |
| Ekspor Migas (Jun) | 1,07 | +40.52 | |
| Impor Migas (Jun) | 4,56 | +0.96 | |
| Ekspor (Jun) | 25,46 | +9.72 | |
| Impor (Jun) | 25,91 | +4.41 | |
| Kunjungan Wisman (Mei) | 1,38 | +10.69 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |