Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengeluaran per kapita per bulan untuk aneka barang dan jasa di Kabupaten Puncak, Papua Tengah pada tahun 2024 tercatat sebesar 36830 rupiah. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 35,4 persen dibandingkan tahun 2023 yang sebelumnya mencapai 57012 rupiah per kapita per bulan. Sepanjang tujuh tahun data tercatat sejak 2018, penurunan pada tahun 2024 ini merupakan penurunan terbesar yang pernah terjadi di wilayah ini.
(Baca: Update 2025: Nilai Ekspor Nonmigas Menurut Negara Tujuan Afrika di Jawa Barat)
Selama periode 2018 sampai 2024, pengeluaran untuk kategori ini mengalami pergerakan naik turun yang tajam. Pada tahun 2018 tercatat 28047 rupiah, kemudian naik menjadi 35514 rupiah pada 2019, turun sedikit menjadi 25051 rupiah pada 2020, lalu naik menjadi 48571 rupiah pada 2021. Pengeluaran tertinggi terjadi pada tahun 2022 dengan nilai mencapai 72646 rupiah per kapita per bulan, sebelum kemudian mulai turun secara berturut-turut hingga tahun 2024.
Berdasarkan breakdown pengeluaran, nilai aneka barang dan jasa ini hanya menyumbang sekitar 2,7 persen dari total pengeluaran per kapita masyarakat Kabupaten Puncak pada tahun 2024 yang mencapai 1334090 rupiah per bulan. Sebagai perbandingan, pengeluaran untuk makanan saja mencapai 957329 rupiah atau 71,7 persen dari total belanja masyarakat, sementara pengeluaran bukan makanan secara keseluruhan tercatat 376761 rupiah per kapita per bulan.
Untuk peringkat seprovinsi Papua Tengah, Kabupaten Puncak menempati urutan ke 8 dari seluruh 8 kabupaten yang tercatat untuk kategori pengeluaran aneka barang dan jasa tahun 2024. Lima kabupaten dengan nilai tertinggi berturut-turut adalah Kabupaten Mimika dengan 533260 rupiah, Kabupaten Puncak Jaya 529794 rupiah, Kabupaten Intan Jaya 321647 rupiah, Kabupaten Nabire 296826 rupiah dan Kabupaten Paniai 258497 rupiah. Semua kabupaten tersebut memiliki nilai pengeluaran lebih dari 7 kali lipat dibandingkan nilai di Kabupaten Puncak.
Kabupaten Mimika
Kabupaten Mimika menempati urutan pertama seprovinsi untuk total pengeluaran per kapita bulanan gabungan makanan dan bukan makanan dengan nilai 2036080 rupiah pada tahun 2024. Wilayah ini mengalami penurunan sebesar 8,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, namun tetap mampu mempertahankan posisi teratas meskipun terjadi penurunan pada hampir seluruh kategori belanja bukan makanan. Nilai pengeluaran makanan di kabupaten ini tercatat 1034654 rupiah per kapita per bulan, atau hampir 3 kali lipat dibandingkan pengeluaran makanan di Kabupaten Puncak.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan di Sumatera Barat 2025)
Kabupaten Puncak Jaya
Kabupaten Puncak Jaya merupakan satu-satunya wilayah di 8 kabupaten yang dicatat yang mencatatkan kenaikan pada kategori pengeluaran aneka barang dan jasa pada tahun 2024, dengan pertumbuhan sebesar 15,4 persen. Total pengeluaran masyarakat per kapita per bulan di kabupaten ini mencapai 3275258 rupiah, menjadikannya wilayah dengan daya beli tertinggi di Papua Tengah tahun ini. Pertumbuhan pengeluaran makanan di wilayah ini juga mencapai 22 persen, angka pertumbuhan tertinggi dibandingkan seluruh kabupaten lain di provinsi ini.
Kabupaten Nabire
Kabupaten Nabire menempati urutan ketiga seprovinsi untuk total pengeluaran per kapita dengan nilai 1906120 rupiah pada tahun 2024. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan sedikit sebesar 5,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh kenaikan pengeluaran makanan sebesar 1 persen dan kenaikan pengeluaran bukan makanan sebesar 9,1 persen. Untuk kategori aneka barang dan jasa, kabupaten ini mengalami penurunan sebesar 5,3 persen namun tetap mempertahankan posisi urutan ke empat seprovinsi.
Kabupaten Intan Jaya
Kabupaten Intan Jaya mengalami penurunan paling besar untuk total pengeluaran masyarakat secara keseluruhan pada tahun 2024, yaitu sebesar 33,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun demikian, wilayah ini masih menempati urutan ke empat seprovinsi dengan total pengeluaran 1577854 rupiah per kapita per bulan. Penurunan ini terjadi hampir pada seluruh kategori belanja, termasuk penurunan 32 persen untuk pengeluaran makanan dan 37,4 persen untuk pengeluaran bukan makanan secara keseluruhan.