Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi di Kota Bogor pada tahun 2024 mencapai Rp348.362 per kapita per bulan. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 7.2% dibandingkan tahun 2023 yang mencapai Rp375.341, dan menjadi indikasi adanya perubahan pola konsumsi masyarakat atau faktor ekonomi lainnya yang memengaruhi pengeluaran.
Secara historis, pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi di Kota Bogor mengalami fluktuasi. Tahun 2019 tercatat pertumbuhan tertinggi sebesar 34.8%, diikuti penurunan signifikan sebesar 19.4% pada tahun 2020. Pada tahun 2023, pengeluaran mengalami kenaikan tertinggi, namun kembali sedikit pada tahun 2024. Kondisi ini mencerminkan bahwa pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi di Kota Bogor cukup dinamis dan sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi.
(Baca: Produksi Telur Itik/Itik Manila Periode 2013-2024)
Meskipun mengalami penurunan pada tahun 2024, pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi tetap menjadi bagian penting dari total pengeluaran masyarakat Kota Bogor. Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk aneka barang dan jasa mencapai Rp734.573, dimana pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi menyumbang sekitar 47.4% dari total pengeluaran tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi makanan dan minuman jadi masih menjadi prioritas bagi masyarakat Kota Bogor.
Dalam perbandingan dengan wilayah lain di Jawa Barat, Kota Bogor menempati peringkat ke-6 dalam hal pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi pada tahun 2024. Kota Bekasi menempati peringkat pertama dengan nilai Rp478.517, diikuti Kota Depok dan Kabupaten Bekasi. Secara nasional, Kota Bogor berada di peringkat ke-27, menunjukkan bahwa tingkat konsumsi makanan dan minuman jadi di Kota Bogor cukup tinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia (informasi ini seperti data yang diolah dari data Susenas).
Berdasarkan data perbandingan dengan kabupaten/kota lain, Kota Bekasi mencatatkan nilai pengeluaran tertinggi untuk makanan dan minuman jadi pada tahun 2024, yaitu Rp478.517, dengan pertumbuhan 12.5% dibandingkan tahun sebelumnya. Kabupaten Bekasi mengalami pertumbuhan tertinggi di antara lima besar wilayah, yaitu 30.2% dengan nilai pengeluaran Rp398.530. Kota Depok mencatatkan nilai Rp420.276 dengan pertumbuhan 6.2%, Kota Bandung Rp383.870 dengan pertumbuhan 2.4%, dan Kota Cimahi Rp348.576 mengalami penurunan -1.1%. Peringkat Kota Bekasi berada di urutan pertama, Kota Depok di urutan kedua, Kabupaten Bekasi di urutan ketiga, Kota Bandung di urutan keempat dan Kota Cimahi di urutan kelima se-Provinsi Jawa Barat.
Kota Bekasi
Kota Bekasi menunjukkan performa yang kuat dalam pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan, dengan nilai Rp1.908.316 pada tahun 2024. Pertumbuhan sebesar 22.4% dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam konsumsi barang dan jasa non-makanan. Selain itu, Kota Bekasi menduduki peringkat pertama di antara kabupaten/kota di Jawa Barat dalam kategori ini, menegaskan posisinya sebagai wilayah dengan daya beli yang tinggi.
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan di Jambi 2015 - 2024)
Kota Depok
Kota Depok mencatat pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan sebesar Rp1.148.659 pada tahun 2024, dengan pertumbuhan 9% dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun pertumbuhan ini lebih moderat dibandingkan Kota Bekasi, Kota Depok tetap menempati peringkat kedua di Jawa Barat dalam kategori ini. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi makanan di Kota Depok tetap stabil dan menjadi bagian penting dari pengeluaran masyarakat.
Kota Bandung
Kota Bandung menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dalam pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan, dengan penurunan sebesar 14% menjadi Rp2.378.240 pada tahun 2024. Meskipun demikian, Kota Bandung masih menduduki peringkat ketiga di Jawa Barat dalam kategori ini. Penurunan ini mungkin disebabkan oleh perubahan prioritas pengeluaran masyarakat atau faktor ekonomi lainnya yang memengaruhi daya beli.