Badan Pusat Statistik mencatat pengeluaran per kapita per bulan untuk kebutuhan kecantikan di Kota Subulussalam tahun 2025 mencapai 24990 Rupiah. Nilai ini mengalami kenaikan sebesar 13,8 persen dibandingkan tahun 2024. Selisih kenaikan nilai pengeluaran kecantikan pada tahun terakhir mencapai 3034 Rupiah per kapita setiap bulannya. Informasi ini seperti data yang diolah dari data Susenas.
(Baca: PDRB ADHB Sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor di Kep. Bangka Belitung | 2025)
Dari catatan historis sejak tahun 2018, pengeluaran kecantikan warga Kota Subulussalam mengalami pergerakan naik turun. Pada tahun 2023 tercatat pengeluaran tertinggi dalam periode 8 tahun terakhir yaitu mencapai 33291 Rupiah per kapita per bulan. Setelah itu terjadi penurunan sebesar 34 persen pada tahun 2024, sebelum kembali naik pada tahun 2025. Anomali terbesar terjadi pada tahun 2021 dimana terjadi penurunan sebesar 30,2 persen dari tahun sebelumnya, menjadi nilai terendah pasca tahun 2019.
Nilai pengeluaran kecantikan tahun 2025 tersebut hanya menyumbang sekitar 11,2 persen dari rata-rata pengeluaran perawatan warga, 16 persen dari pengeluaran sabun mandi, 17,5 persen dari pengeluaran rokok dan tembakau, serta 16 persen dari pengeluaran makanan jadi per kapita per bulan. Secara keseluruhan, pengeluaran kecantikan hanya menyumbang kurang lebih 11 persen dari total rata-rata pengeluaran aneka barang dan jasa warga Kota Subulussalam.
Berdasarkan data perbandingan se-provinsi Aceh, Kota Subulussalam menempati urutan ke 21 dari total 23 kabupaten dan kota di provinsi tersebut untuk kategori pengeluaran kecantikan tahun 2025. Hanya Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Aceh Tenggara yang mencatat nilai pengeluaran kecantikan lebih rendah dibandingkan Kota Subulussalam. Secara nasional, wilayah ini menempati urutan 427 dari seluruh kabupaten kota di Indonesia, dan urutan 133 pada tingkat pulau Sumatera.
Perbandingan Pengeluaran Dengan Wilayah Lain di Aceh
Kota Banda Aceh tercatat memiliki pengeluaran kecantikan tertinggi se-provinsi Aceh tahun 2025 dengan nilai 87136 Rupiah per kapita per bulan, meskipun wilayah ini mencatat penurunan sebesar 17,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Urutan kedua dipegang Kota Sabang dengan nilai 79457 Rupiah, diikuti Kota Lhokseumawe 70411 Rupiah, Kota Langsa 54543 Rupiah dan Kabupaten Bener Meriah 50241 Rupiah. Seluruh lima wilayah teratas ini mencatat nilai pengeluaran kecantikan lebih dari dua kali lipat nilai pengeluaran di Kota Subulussalam.
(Baca: Cuaca Karo Hari Ini, 31 Oktober 2026: Kabut/Asap dengan Suhu 19-25 °C)
Pola Pengeluaran Total Masyarakat
Untuk total pengeluaran per kapita gabungan makanan dan bukan makanan, Kota Subulussalam menempati urutan ke 21 dari 23 wilayah di Aceh tahun 2025 dengan total nilai 1133459 Rupiah per bulan. Nilai ini mengalami kenaikan sebesar 9,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikan Kota Subulussalam sebagai salah satu wilayah dengan pertumbuhan pengeluaran total tertinggi di Aceh pada tahun terakhir. Sementara itu Kota Banda Aceh masih memimpin dengan total pengeluaran mencapai 2565676 Rupiah per kapita per bulan.
Pengeluaran Non Makanan Warga
Kategori pengeluaran bukan makanan di Kota Subulussalam tercatat mencapai 447898 Rupiah per kapita per bulan tahun 2025, dengan pertumbuhan sebesar 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Wilayah ini menempati urutan ke 19 untuk kategori ini se-provinsi Aceh. Pertumbuhan pengeluaran bukan makanan di Kota Subulussalam tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan provinsi yang hanya mencapai 2,1 persen pada tahun yang sama.
Pengeluaran Kebutuhan Makanan
Pengeluaran untuk kebutuhan makanan warga Kota Subulussalam mencapai 685561 Rupiah per kapita per bulan tahun 2025, mengalami kenaikan sebesar 12,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini merupakan salah satu kenaikan tertinggi diantara seluruh wilayah di Aceh pada kategori yang sama. Meskipun demikian, nilai pengeluaran makanan ini masih berada 37 persen lebih rendah dibandingkan nilai pengeluaran makanan di Kota Banda Aceh yang menjadi wilayah dengan pengeluaran makanan tertinggi di provinsi.