Kemenhut: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 4.497 Dalam 24 Jam Terakhir (Sabtu, 31 Oktober 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 4.497 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 249 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Sabtu (31/10/2026) pukul 11.50 WIB. Dari 4.497 titik panas terdeteksi, 203 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 4114 titik skala sedang, dan 180 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Indonesia, Negara dengan Kualitas Udara Terburuk di Asia Tenggara)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Timur sebanyak 844 titik. Kalimantan Tengah menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 784 titik. Sulawesi Tengah berada di posisi ketiga sebanyak 585 titik panas.
Sebanyak 454 titik panas terdeteksi di Papua Selatan, Sulawesi Tenggara menyusul dengan 367 titik panas, serta Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan masing-masing memiliki 256 dan 242 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Kualitas Udara 6 Ibu Kota Provinsi Terdampak Karhutla, Palembang Terburuk)
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Sep) | 3,28% | +0.09 | |
| Inflasi mom (Agu) | 0,21% | +0.35 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 18.151 | +0.12 | |
| PDB ADHK (Q2) | 3.576,20 | +3.73 | |
| Ekspor Migas (Agu) | 992,20 | +25.98 | |
| Neraca perdagangan (Agu) | 3,55 | +2,814.03 | |
| Impor Migas (Agu) | 3,53 | -6.37 | |
| Ekspor (Agu) | 26,61 | +1.51 | |
| Impor (Agu) | 23,06 | -11.63 | |
| Kunjungan Wisman (Agu) | 1,60 | +4.89 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |