Besar pengeluaran untuk rokok dan tembakau di Kabupaten Jepara pada 2024 tercatat sebesar Rp131.036 per kapita per bulan. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 2,2% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp128.227 per kapita per bulan. Informasi ini seperti data yang diolah dari data Susenas.
Jika dibandingkan dengan pengeluaran total masyarakat Jepara, alokasi untuk rokok dan tembakau cukup signifikan. Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan di Jepara adalah Rp1.088.545. Dengan demikian, pengeluaran untuk rokok dan tembakau mencapai sekitar 12% dari total pengeluaran masyarakat.
Secara historis, pengeluaran untuk rokok dan tembakau di Kabupaten Jepara mengalami peningkatan yang cukup besar dalam beberapa tahun terakhir. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2018, pengeluaran untuk rokok dan tembakau masih sebesar Rp73.089 per kapita per bulan. Dalam kurun waktu enam tahun, angka ini meningkat hampir dua kali lipat. Kenaikan tertinggi terjadi pada periode 2019-2020 dan 2020-2021 dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 22,7% dan 22,6%. Sempat terkoreksi -6,2% di tahun 2023, namun kembali naik sedikit di tahun 2024.
Dalam skala Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Jepara menempati urutan ke-7 untuk besar pengeluaran rokok dan tembakau. Sementara secara nasional, Jepara berada di peringkat 255. Kabupaten Pati menduduki peringkat pertama di Jawa Tengah dengan pengeluaran mencapai Rp151.356 per kapita per bulan.
Jika dibandingkan dengan beberapa kabupaten/kota lain di Jawa Tengah, terdapat perbedaan yang mencolok dalam hal pengeluaran untuk rokok dan tembakau. Berikut adalah lima kabupaten/kota dengan pengeluaran tertinggi: Kabupaten Pati (Rp151.356), Kabupaten Rembang (Rp146.365), Kabupaten Demak (Rp142.988), Kota Semarang (Rp136.682), dan Kabupaten Sragen (Rp135.798). Pertumbuhan pengeluaran rokok dan tembakau di Kota Semarang cukup tinggi, yaitu 16,6%. Sementara, Kabupaten Pati mengalami penurunan -5,8%.
Kota Semarang
Kota Semarang menunjukkan performa yang baik dalam pertumbuhan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan, dengan peningkatan sebesar 12,6% menjadi Rp1.322.997 dan menduduki peringkat pertama se-Jawa Tengah. Kenaikan signifikan ini menunjukkan peningkatan daya beli masyarakat Semarang untuk kebutuhan selain makanan. Sebaliknya, pengeluaran untuk makanan mencapai Rp914.785.
Kota Salatiga
Kota Salatiga mengalami penurunan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan turun 14,4%, menjadi Rp1.315.195, meski tetap menduduki posisi kedua tertinggi di Jawa Tengah. Sementara itu, pengeluaran untuk makanan juga mengalami penurunan -5,5% menjadi Rp811.317. Kondisi ini kontras dengan tahun sebelumnya yang menunjukkan angka yang lebih tinggi.
Kota Magelang
Kota Magelang mencatatkan pertumbuhan yang relatif stabil dalam pengeluaran bukan makanan, yaitu sebesar 1,8% menjadi Rp980.996, dan berada di peringkat ketiga. Pengeluaran untuk makanan mengalami penurunan -6,6% menjadi Rp689.220, menandakan adanya perubahan prioritas konsumsi di kalangan masyarakat Kota Magelang.
Kota Surakarta
Kota Surakarta menunjukkan penurunan dalam rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan turun 3,7%, menjadi Rp942.391, sehingga menempati peringkat keempat di Jawa Tengah. Sementara pengeluaran untuk makanan sedikit terkoreksi -0,9% menjadi Rp759.788. Ini mengindikasikan adanya perubahan dalam pola konsumsi masyarakat Kota Surakarta.