Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengeluaran per kapita per bulan untuk perawatan kulit di Kabupaten Sleman pada tahun 2024 mencapai 93002 Rupiah. Nilai ini mengalami kenaikan sedikit sebesar 1,9 persen dibandingkan tahun 2023 yang tercatat sebesar 91286 Rupiah. Selama periode tujuh tahun pencatatan sejak 2018, nilai pengeluaran ini mengalami pergerakan naik turun dengan pengeluaran tertinggi tercatat pada tahun 2022 sebesar 98505 Rupiah.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Halmahera Barat Periode 2004 - 2025)
Dari total pengeluaran masyarakat, biaya perawatan kulit di Kabupaten Sleman menyumbang sekitar 24,8 persen dari total pengeluaran untuk kategori kecantikan. Nilai ini juga setara dengan 10,9 persen dari pengeluaran untuk sabun mandi, 24,1 persen dari pengeluaran rokok dan tembakau, serta 24 persen dari pengeluaran untuk makanan jadi per kapita setiap bulannya. Angka ini menunjukkan bahwa perawatan kulit menjadi salah satu pos pengeluaran rutin yang cukup signifikan bagi masyarakat wilayah ini.
Secara historis sejak 2018, pengeluaran perawatan kulit di Kabupaten Sleman pertama kali naik sebesar 66 persen pada tahun 2019. Kemudian terjadi penurunan sebesar 22,5 persen pada tahun 2020, naik kembali 14,4 persen pada 2021, dan mencapai pengeluaran tertinggi pada 2022. Setelah itu terjadi penurunan sebesar 7,3 persen pada 2023 sebelum akhirnya naik sedikit pada tahun 2024. Rata-rata pengeluaran selama lima tahun terakhir berada di angka 84289 Rupiah, dimana nilai tahun 2024 berada di atas rata-rata tersebut.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat untuk kategori pengeluaran perawatan kulit tahun 2024, Kabupaten Sleman menempati peringkat pertama di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi DI Yogyakarta. Secara nasional, wilayah ini menempati urutan ke 64 dari seluruh kabupaten kota di Indonesia, dan urutan ke 19 dari seluruh wilayah yang ada di Pulau Jawa. Sementara seluruh kabupaten dan kota lain di provinsi yang sama justru mencatat penurunan pengeluaran perawatan kulit pada tahun yang sama.
Kota Yogyakarta yang pada tahun 2023 memiliki pengeluaran perawatan kulit tertinggi seprovinsi, mencatat penurunan sebesar 42,8 persen pada tahun 2024 sehingga turun ke peringkat kedua. Disusul Kabupaten Bantul dengan penurunan 17 persen, Kabupaten Kulonprogo penurunan 27,7 persen, dan Kabupaten Gunung Kidul penurunan 2,2 persen. Hanya Kabupaten Sleman yang mencatat kenaikan nilai pengeluaran untuk kategori ini pada tahun 2024 di seluruh wilayah DI Yogyakarta.
Kabupaten Sleman
(Baca: Inflasi Pakaian dan Alas Kaki di Kota Pangkal Pinang Bulan April 0,92%)
Untuk total pengeluaran per kapita makanan, Kabupaten Sleman menempati peringkat pertama seprovinsi pada tahun 2024 dengan nilai 884007 Rupiah per bulan, mengalami kenaikan sebesar 18,9 persen dari tahun sebelumnya. Untuk pengeluaran bukan makanan, wilayah ini berada di peringkat kedua dengan nilai 1297903 Rupiah per bulan, atau mengalami kenaikan sebesar 24,1 persen. Total pengeluaran keseluruhan masyarakat Kabupaten Sleman berada di peringkat kedua seprovinsi, dengan catatan penurunan sebesar 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kota Yogyakarta
Kota Yogyakarta masih memegang peringkat pertama untuk total pengeluaran keseluruhan masyarakat seprovinsi pada tahun 2024 dengan nilai 2248256 Rupiah per kapita per bulan. Wilayah ini mencatat kenaikan sangat kecil untuk total pengeluaran, yaitu hanya 0,2 persen. Untuk kategori pengeluaran makanan, Kota Yogyakarta berada di peringkat kedua dengan kenaikan 19,2 persen, sedangkan untuk pengeluaran bukan makanan nilainya hampir stagnan dengan pertumbuhan 0 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kabupaten Bantul
Kabupaten Bantul secara konsisten menempati peringkat ketiga untuk seluruh kategori pengeluaran utama di Provinsi DI Yogyakarta. Pada tahun 2024, pengeluaran makanan per kapita wilayah ini mencapai 753854 Rupiah per bulan dengan kenaikan 18,6 persen. Pengeluaran bukan makanan tercatat 976696 Rupiah per bulan dengan kenaikan 18,9 persen. Sementara total pengeluaran keseluruhan masyarakat tercatat mengalami penurunan sebesar 15,6 persen dibandingkan tahun 2023.
Kabupaten Gunung Kidul
Kabupaten Gunung Kidul mencatat pertumbuhan pengeluaran makanan tertinggi seprovinsi pada tahun 2024 yaitu sebesar 26 persen, dengan nilai mencapai 588557 Rupiah per kapita per bulan. Untuk pengeluaran bukan makanan, wilayah ini juga mencatat pertumbuhan tertinggi yaitu 42,1 persen, meskipun secara nilai absolut masih berada di peringkat terakhir seprovinsi. Total pengeluaran keseluruhan masyarakat wilayah ini mengalami penurunan sedikit sebesar 1,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.