Bank investasi global, Morgan Stanley, dilaporkan memangkas proyeksi harga emas hingga 8,77% untuk paruh kedua 2026.
Sebelumnya, bank asal Amerika Serikat (AS) itu menargetkan harga emas di level US$5.700 per troy ounce. Namun, kini direvisi menjadi US$5.200 per troy ounce.
Menurut laporan The Economic Times, langkah tersebut mengikuti aksi jual besar-besaran selama enam minggu, ketika harga emas anjlok hampir 8%.
Morgan Stanley mengatakan, aksi jual dipicu supply shock yang langka. Selain itu, kenaikan imbal hasil riil dan penundaan pemangkasan suku bunga The Fed telah mengubah lanskap makroekonomi.
Proyeksi terbaru Morgan Stanley, tulis The Economic Times, menunjukkan masa depan emas pada 2026 lebih bergantung pada kondisi likuiditas, imbal hasil obligasi, dan waktu kebijakan moneter.
Pemangkasan prediksi harga emas juga disebabkan guncangan pasokan. Gangguan energi di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi, yang meningkatkan ekspektasi inflasi di pasar global.
“Ketika ekspektasi inflasi meningkat bersamaan dengan ketahanan ekonomi, imbal hasil riil pun ikut bergerak naik,” tulis Piyush Shukla di The Economic Times dalam laporannya.
Menurut The Economic Times, imbal hasil riil yang lebih tinggi membuat obligasi menjadi lebih menarik. Emas, yang tidak memberikan bunga, menjadi kurang memikat.
Morgan Stanley menilai pergeseran ini memulihkan hubungan terbalik klasik antara emas dengan imbal hasil riil. Selama reli 2025, hubungan itu melemah, tapi kini kembali berpengaruh.
Pemangkasan proyeksi harga emas turut didorong aksi beberapa bank sentral negara berkembang yang melepas cadangan emasnya. Aksi ini dinilai memberikan tekanan tambahan pada harga.
“Morgan Stanley juga mencatat arus keluar pada ETF (Exchange-Traded Fund) berubah menjadi negatif. Investor yang sebelumnya membeli secara agresif mulai keluar dari posisi mereka dengan cepat, sehingga mempercepat penurunan harga,” tulis Shukla.
(Baca: Harga Emas Cenderung Turun dalam 16 Hari Perang AS-Israel vs Iran)