Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), kinerja saham-saham sektor barang konsumen primer secara umum tidak begitu menonjol pada 2025.
Sejak awal tahun sampai 30 Desember 2025, indeks saham sektor barang konsumen primer (IDXNONCYC) hanya naik 9,64% (ytd).
Angka tersebut menempatkan IDXNONCYC di peringkat terbawah dari 11 indeks saham sektoral di BEI, serta lebih rendah dari kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 22% (ytd).
IDXNONCYC ini berisi emiten yang memproduksi atau mendistribusikan kebutuhan primer kepada konsumen. Barang-barangnya bersifat non-siklis, yang permintaannya cenderung konsisten, tidak dipengaruhi oleh siklus ekspansi ataupun kontraksi ekonomi.
Contoh usaha emiten di sektor ini adalah penjualan makanan dan minuman, obat-obatan, rokok, produk perawatan pribadi, perlengkapan rumah tangga sehari-hari, termasuk layanan supermarket dan retail barang primer lainnya.
(Baca: Ini Sektor Saham dengan Kinerja Terbaik di BEI Tahun 2025)
Sampai akhir kuartal III 2025, ada 131 emiten sektor barang konsumen primer yang tercatat di basis data BEI.
Di antara seluruh emiten ini, yang memiliki aset terbesar adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Berikut daftar 10 emiten sektor barang konsumen primer dengan nilai total aset terbesar pada akhir kuartal III 2025, menurut data BEI:
- PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF): Rp214,47 triliun
- PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP): Rp132,41 triliun
- PT Gudang Garam Tbk (GGRM): Rp76,50 triliun
- PT HM Sampoerna Tbk (HMSP): Rp47,92 triliun
- PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN): Rp43,72 triliun
- PT Sinas Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR): Rp43,26 triliun
- PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT): Rp40,02 triliun
- PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP): Rp39,06 triliun
- PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA): Rp37,30 triliun
- PT Mayora Indah Tbk (MYOR): Rp30,71 triliun
(Baca: IHSG Naik 22% pada 2025, Tertinggi Sedekade Terakhir)