Menurut data Bank Dunia, rata-rata harga emas di pasar global pada tahun 2025 mencapai US$3.442/troy ons.
Harganya naik sekitar 44% dibanding rata-rata harga setahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
Adapun jika dihitung secara kumulatif, selama periode 1960—2025 rata-rata harga emas dunia sudah naik sekitar 9.660% atau melonjak 98 kali lipat.
Bank Dunia menilai, kenaikan harga emas pada tahun 2025 dipengaruhi ketidakpastian geopolitik. Hal ini mendorong bertambahnya permintaan akan aset-aset investasi yang dianggap aman (safe-haven), salah satunya emas.
Lonjakan harga komoditas tersebut turut dipengaruhi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang melonggar, turunnya nilai dolar AS, serta meningkatnya tren pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara.
(Baca: Kilas Balik Tahun 2025, Harga Emas Antam Naik 65%)
Kendati begitu, lonjakan harga emas ini bukan yang pertama kalinya terjadi. Merujuk catatan Bank Dunia, harga emas pernah melonjak jauh lebih tinggi beberapa dekade lalu.
Lonjakan paling tinggi terjadi pada tahun 1980, ketika rata-rata harga emas dunia meroket 98% (yoy).
Kenaikan harga emas secara mencolok juga pernah terjadi pada tahun 1973, 1974, dan 1979, saat rata-rata harganya naik di kisaran 58—67% (yoy).
Sedangkan persentase kenaikan harga emas pada 2025 menjadi yang tertinggi kelima sejak awal pencatatan Bank Dunia tahun 1960.
Menurut Bank Dunia, kenaikan harga emas kerap beriringan dengan meningkatnya kekhawatiran investor akan situasi global.
"Harga emas sering dipandang sebagai barometer ketidakpastian global. Konflik-konflik dan ketidakpastian geopolitik terdahulu kerap diiringi dengan kenaikan harga emas," kata Bank Dunia dalam laporan Commodity Market Outlook edisi Oktober 2023.
(Baca: Proyeksi Harga Emas Tahun 2026 dari Bank Dunia)