Kementerian Pertanian - Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan mencatat produksi telur ayam buras di Provinsi Papua pada tahun 2024 sebesar 296.03 Ton. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan sebesar 44.12% dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 529.8 Ton. Penurunan ini juga terlihat dari selisih nilai yang turun 233.77 Ton dibandingkan tahun sebelumnya. Data historis menunjukkan produksi telur ayam buras di Papua mengalami fluktuasi sepanjang tahun 2000 hingga 2024.
Produksi tertinggi dalam periode tersebut terjadi pada tahun 2021, mencapai 3772.52 Ton, sementara produksi terendah tercatat pada tahun 2024 dengan 296.03 Ton. Kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2020 ke 2021, yaitu sebesar 1909.17 Ton, sebuah anomali dibandingkan tahun-tahun lainnya. Rata-rata produksi telur ayam buras selama 3 tahun terakhir (2022-2024) adalah 1466.18 Ton, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata 5 tahun terakhir (2020-2024) yang mencapai 1911.39 Ton. Ini mengindikasikan adanya penurunan signifikan dalam produksi telur ayam buras dalam beberapa tahun terakhir.
(Baca: Harga Cabai Rawit di Pasar Tradisional Periode Januari 2025-2026)
Secara ranking, produksi telur ayam buras di Papua berada di peringkat ke-2 di antara pulau Papua pada tahun 2024. Peringkat ini sama dengan tahun 2023. Secara nasional, Papua menduduki peringkat ke-33, menunjukkan posisi yang kurang signifikan dalam kontribusi produksi telur ayam buras secara keseluruhan di Indonesia. Nilai produksi tahun 2024 sebesar 296.03 Ton juga jauh di bawah rata-rata nasional.
Kenaikan tertinggi produksi telur ayam buras di Papua terjadi pada tahun 2021, didorong oleh faktor yang belum teridentifikasi dalam data ini. Sebaliknya, penurunan terendah terjadi pada tahun 2007 dengan selisih -92 Ton. Anomali kenaikan pada tahun 2021 diikuti penurunan drastis pada tahun 2022 turun 3250.32 Ton, menunjukkan ketidakstabilan dalam produksi telur ayam buras di provinsi ini.
Dibandingkan dengan provinsi lain di pulau Papua, Papua Barat memiliki produksi telur ayam buras tertinggi dengan nilai 715.66 Ton, menempatkannya di peringkat ke-30 secara nasional. Kalimantan Utara mencatatkan produksi 705.21 Ton dan menduduki peringkat ke-31 se-Indonesia. Sementara Gorontalo mencatatkan produksi 417.44 Ton berada di ranking ke-32 secara nasional. Data ini mengindikasikan Papua memiliki produksi yang lebih rendah dibandingkan Papua Barat, Kalimantan Utara dan Gorontalo dalam hal produksi telur ayam buras di tahun 2024.
Papua Barat
Papua Barat memimpin produksi telur ayam buras di Pulau Papua dengan 715.66 Ton, namun mengalami penurunan signifikan turun 76.96%. Dengan penurunan turun 2390.34 Ton dibandingkan tahun sebelumnya. Peringkatnya secara nasional adalah ke-30. Nilai ini jauh di bawah rata-rata 3 tahun terakhir, menunjukkan penurunan yang perlu diperhatikan.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Trenggalek | 2004 - 2024)
Kalimantan Utara
Kalimantan Utara berada di peringkat ke-5 di pulau Kalimantan dan ke-31 di Indonesia dengan produksi 705.21 Ton. Data ini mencerminkan penurunan tajam turun 85.42%, dengan selisih penurunan turun 4132.59 Ton dari tahun sebelumnya. Penurunan ini mengindikasikan adanya tantangan signifikan dalam produksi telur ayam buras di wilayah ini.
Gorontalo
Dengan produksi sebesar 417.44 Ton, Gorontalo menempati peringkat ke-6 di pulau Sulawesi dan peringkat ke-32 secara nasional. Persentase penurunannya turun 64.77%, menghasilkan selisih penurunan -767.46 Ton dari tahun sebelumnya. Ini menunjukkan penurunan yang signifikan dalam produksi telur ayam buras di Gorontalo.