Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDRB ADHK Sektor Pengadaan Gas dan Produksi Es Provinsi Banten pada akhir tahun 2025 tercatat sebesar 1942,07 Rp miliar. Sepanjang periode 2010 hingga 2025, sektor ini menunjukkan tren penurunan secara konsisten, dengan total penurunan sebesar 36,80% sejak tahun pertama pencatatan. Nilai tahun 2025 juga menjadi nilai terendah sepanjang sejarah pencatatan data ini, setelah sebelumnya pada tahun 2024 tercatat sebesar 1962,18 Rp miliar.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan di Riau 2025)
Banten mencatat pertumbuhan sektor ini pada tahun 2025 turun 1,02 persen. Rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir turun 8,58 persen, sementara rata-rata 5 tahun terakhir tercatat -1,05 persen. Hal ini menunjukkan kinerja 3 tahun terakhir secara signifikan lebih buruk dibandingkan periode 5 tahun terakhir. Kenaikan tertinggi sepanjang sejarah terjadi pada tahun 2021 dengan pertumbuhan 17,14 persen, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada tahun 2024 dengan penurunan sebesar 20,73 persen.
Pada tahun 2025, Banten menempati peringkat ke-3 di wilayah Pulau Jawa untuk nilai sektor ini, sekaligus peringkat ke-3 secara nasional. Posisi peringkat ini tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya. Dari 5 provinsi dengan nilai tertinggi nasional, Banten menjadi satu-satunya wilayah di Pulau Jawa yang mencatat pertumbuhan negatif pada tahun berjalan, dengan penurunan nilai sebesar 20,11 Rp miliar dibandingkan tahun 2024.
Jawa Timur
Jawa Timur menempati posisi pertama tertinggi secara nasional maupun wilayah Pulau Jawa untuk sektor ini pada tahun 2025, dengan nilai total PDRB mencapai 4896,42 Rp miliar. Wilayah ini mencatat pertumbuhan positif sebesar 6,47 persen pada tahun berjalan, dengan penambahan nilai sebesar 297,45 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Besar nilai sektor ini di Jawa Timur lebih dari dua kali lipat nilai yang tercatat di Banten, dan menjadi satu-satunya wilayah di daftar teratas yang mencatat pertumbuhan di atas 5 persen pada tahun 2025.
Jawa Barat
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Sumedang | 2004 - 2025)
Jawa Barat berada di posisi kedua nasional dan kedua Pulau Jawa dengan nilai PDRB sektor ini sebesar 2925,44 Rp miliar tahun 2025. Wilayah ini mencatat pertumbuhan sedikit sebesar 0,91 persen, dengan penambahan nilai sebesar 26,29 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun pertumbuhan tercatat sangat kecil, Jawa Barat berhasil mempertahankan posisi peringkatnya, dengan nilai masih sekitar 50 persen lebih tinggi dibandingkan nilai yang tercatat untuk Provinsi Banten pada periode yang sama.
Kepulauan Riau
Kepulauan Riau menempati peringkat keempat secara nasional pada tahun 2025 untuk sektor ini, dengan total nilai PDRB tercatat sebesar 1792,56 Rp miliar. Wilayah luar Pulau Jawa ini mencatat pertumbuhan sebesar 8,64 persen, merupakan tingkat pertumbuhan tertinggi diantara seluruh wilayah dalam daftar perbandingan tahun 2025. Dengan pertumbuhan ini, Kepulauan Riau berhasil meningkatkan nilai hampir 143 Rp miliar, dan saat ini hanya terpaut sekitar 150 Rp miliar saja dari nilai yang tercatat untuk Provinsi Banten.
DKI Jakarta
DKI Jakarta menempati peringkat kelima secara nasional dan keempat wilayah Pulau Jawa pada tahun 2025, dengan nilai PDRB sektor ini hanya sebesar 802,51 Rp miliar. Wilayah ini mengalami penurunan paling dalam diantara seluruh wilayah yang dibandingkan, yaitu sebesar 34,04 persen dengan pengurangan nilai total mencapai 414,24 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai sektor ini di DKI Jakarta saat ini kurang dari setengah nilai yang tercatat untuk Provinsi Banten pada tahun yang sama.
Banten
Sebagai wilayah peringkat ketiga nasional dan ketiga Pulau Jawa, Banten mencatat nilai PDRB sektor Pengadaan Gas dan Produksi Es sebesar 1942,07 Rp miliar pada tahun 2025. Wilayah ini mengalami penurunan sedikit sebesar 1,02 persen pada tahun berjalan, setelah pada tahun sebelumnya mengalami penurunan sangat dalam diatas 20 persen. Posisi peringkat Banten tetap stabil sejak tiga tahun terakhir, namun dengan trend penurunan yang masih berlanjut, jarak nilai dengan wilayah peringkat empat dibawahnya terus mengecil setiap tahun.