Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada 2024, 100 persen desa di Kota Probolinggo, Jawa Timur, sebagian besar keluarganya telah menggunakan LPG lebih dari 3 kg untuk memasak.
Dibandingkan tahun sebelumnya, tidak ada perubahan, tetap 100 persen. Namun, jika dilihat dari data historis, terjadi fluktuasi. Pada 2014, persentase tercatat 93.1 persen, kemudian turun menjadi 72.41 persen pada 2018. Selanjutnya, terjadi kenaikan signifikan menjadi 100 persen pada 2020 dan bertahan hingga 2024. Ini menunjukkan bahwa meskipun sempat menurun, adopsi LPG di Kota Probolinggo mengalami pemulihan dan mencapai titik tertinggi dalam periode 2014-2024. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2020 sebesar 38.1 persen.
(Baca: NPL Bank Umum Lapangan Usaha Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi Periode 2015-2025)
Jika dibandingkan dengan rata-rata tiga tahun sebelumnya (2021-2023 yang diasumsikan 100 persen), kondisi 2024 masih sama. Namun, jika dibandingkan dengan rata-rata lima tahun terakhir (2014-2018), terjadi peningkatan yang signifikan. Pada periode tersebut, rata-rata persentase penggunaan LPG adalah sekitar 83.7 persen. Ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran dan aksesibilitas masyarakat terhadap LPG dalam beberapa tahun terakhir.
Peringkat Kota Probolinggo dalam penggunaan LPG di Pulau Jawa pada tahun 2024 adalah 11. Data pembanding menunjukkan, ada beberapa kota/kabupaten lain di Jawa yang juga mencapai 100 persen, seperti Kota Malang, Kota Madiun, Kota Mojokerto, Kota Batu, Kota Cilegon, Kota Salatiga, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Sleman, Kota Kediri, Kota Pekalongan, Kota Jakarta Barat, Kota Cimahi, Kota Magelang, Kota Depok, Kota Cirebon, Kota Bekasi, Kota Banjar, dan Kota Yogyakarta. Secara nasional, Kota Probolinggo berada di peringkat 26.
Kenaikan tertinggi penggunaan LPG di Kota Probolinggo terjadi pada periode 2018-2020, dengan peningkatan sebesar 27.59 persen. Sementara tidak terjadi perubahan sama sekali pada tahun 2021 dan 2024. Anomali terjadi pada tahun 2018 ketika persentase turun signifikan.
Kota Balikpapan
Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, mencatatkan persentase 100 persen keluarga menggunakan LPG lebih dari 3kg untuk memasak. Peringkatnya di pulau Kalimantan adalah 5, sama dengan beberapa daerah lain. Ini menunjukkan bahwa adopsi LPG di Kota Balikpapan sudah sangat merata dan menjadi salah satu yang tertinggi di Kalimantan. Konsistensi ini, ditunjukkan dengan tidak adanya pertumbuhan, mengindikasikan bahwa infrastruktur dan distribusi LPG telah berjalan dengan baik.
Kota Bontang
Kota Bontang, Kalimantan Timur, juga mencatatkan angka yang sama dengan Balikpapan, yaitu 100 persen. Ini menempatkan Bontang pada posisi yang setara dengan kota-kota lain di Kalimantan. Sama halnya dengan Balikpapan, Kota Bontang juga menduduki ranking 5 di pulau Kalimantan. Kota Bontang juga menunjukkan kemerataan akses dan penggunaan LPG di kalangan masyarakatnya.
Kabupaten Tana Tidung
Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, juga mencatatkan persentase 100 persen. Ini mengindikasikan bahwa program-program pemerintah untuk penyediaan LPG telah berhasil menjangkau daerah-daerah terpencil di Kalimantan. Status ini sekaligus mengkonfirmasi bahwa kemerataan akses terhadap energi bersih untuk memasak telah terdistribusi dengan baik di Kalimantan Utara. Bersama dengan kota-kota lain yang memiliki persentase serupa, Kabupaten Tana Tidung berbagi peringkat 5 di pulau Kalimantan.
Kota Tarakan
Dengan persentase 100 persen, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, menunjukkan bahwa hampir seluruh keluarga di sana telah beralih menggunakan LPG untuk memasak. Infrastruktur yang baik dan program subsidi LPG yang tepat sasaran mungkin menjadi faktor utama keberhasilan ini. Tingginya adopsi LPG di Tarakan, menjadikannya sejajar dengan kota-kota lain di Kalimantan dalam hal pemanfaatan energi bersih untuk keperluan rumah tangga. Lagi-lagi, bersama dengan daerah lain dengan persentase yang sama, Kota Tarakan mengamankan posisi ranking 5 di pulau Kalimantan.
Kota Pematang Siantar
Kota Pematang Siantar di Sumatera Utara, mencatatkan persentase 100 persen, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Pematang Siantar berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Sumatera. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Dengan persentase yang sama, Kota Pematang Siantar menduduki ranking 8 di pulau Sumatera.
Kota Tanjung Balai
Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara, memiliki persentase penggunaan LPG sebesar 100 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa hampir seluruh masyarakat di kota ini telah beralih menggunakan LPG sebagai bahan bakar utama untuk memasak. Infrastruktur yang memadai dan distribusi LPG yang efektif menjadi faktor kunci dalam mencapai tingkat adopsi yang tinggi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Tanjung Balai menduduki ranking 8 di pulau Sumatera.
Kota Tebing Tinggi
Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, juga mencatatkan persentase 100 persen untuk penggunaan LPG. Ini menunjukkan bahwa program konversi energi dari bahan bakar lain ke LPG telah berhasil diimplementasikan di kota ini. Masyarakat telah merasakan manfaat dari penggunaan LPG yang lebih bersih dan efisien. Bersama dengan daerah lain, Kota Tebing Tinggi menduduki ranking 8 di pulau Sumatera.
Kota Palu
Kota Palu, Sulawesi Tengah, mencapai persentase 100 persen, menunjukkan bahwa hampir seluruh rumah tangga di kota ini telah menggunakan LPG untuk memasak. Hal ini mencerminkan keberhasilan pemerintah daerah dalam menyediakan akses LPG yang mudah dan terjangkau bagi masyarakat. Dengan persentase yang sama, Kota Palu menempati ranking 2 di pulau Sulawesi.
Kota Blitar
Kota Blitar di Jawa Timur, mencapai 100 persen adopsi LPG. Hal ini menunjukkan bahwa hampir seluruh keluarga di kota ini menggunakan LPG untuk memasak. Aksesibilitas dan harga yang terjangkau menjadi faktor utama dalam keberhasilan ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Blitar menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kabupaten Badung
Kabupaten Badung, Bali, mencatatkan persentase 100 persen, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak. Sebagai daerah pariwisata, penggunaan energi bersih seperti LPG menjadi penting untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dengan pencapaian ini, Kabupaten Badung berbagi posisi teratas dalam hal penggunaan LPG di Bali. Bersama dengan daerah lain, Kabupaten Badung menduduki ranking 2 di pulau Nusa Tenggara dan Bali.
Kabupaten Sumbawa Barat
Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, memiliki persentase penggunaan LPG sebesar 100 persen. Hal ini menunjukkan bahwa hampir seluruh masyarakat di kabupaten ini telah beralih menggunakan LPG sebagai bahan bakar utama untuk memasak. Bersama dengan daerah lain, Kabupaten Sumbawa Barat menduduki ranking 2 di pulau Nusa Tenggara dan Bali.
Kota Denpasar
Kota Denpasar, Bali, mencapai persentase 100 persen dalam penggunaan LPG sebagai bahan bakar memasak. Ini menunjukkan bahwa hampir seluruh rumah tangga di kota ini telah menggunakan LPG untuk memasak. Bersama dengan daerah lain, Kota Denpasar menduduki ranking 2 di pulau Nusa Tenggara dan Bali.
Kota Malang
Kota Malang, Jawa Timur, mencapai persentase 100 persen dalam penggunaan LPG sebagai bahan bakar memasak. Ini menunjukkan bahwa hampir seluruh rumah tangga di kota ini telah menggunakan LPG untuk memasak. Bersama dengan daerah lain, Kota Malang menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kota Madiun
Kota Madiun, Jawa Timur, mencapai persentase 100 persen dalam penggunaan LPG sebagai bahan bakar memasak. Ini menunjukkan bahwa hampir seluruh rumah tangga di kota ini telah menggunakan LPG untuk memasak. Bersama dengan daerah lain, Kota Madiun menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kota Mojokerto
Kota Mojokerto, Jawa Timur, mencapai persentase 100 persen dalam penggunaan LPG sebagai bahan bakar memasak. Ini menunjukkan bahwa hampir seluruh rumah tangga di kota ini telah menggunakan LPG untuk memasak. Bersama dengan daerah lain, Kota Mojokerto menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kabupaten Kota Waringin Barat
Kabupaten Kota Waringin Barat, Kalimantan Tengah, memiliki persentase penggunaan LPG sebesar 100 persen. Hal ini menunjukkan bahwa hampir seluruh masyarakat di kabupaten ini telah beralih menggunakan LPG sebagai bahan bakar utama untuk memasak. Bersama dengan daerah lain, Kabupaten Kota Waringin Barat menduduki ranking 5 di pulau Kalimantan.
Kabupaten Sukamara
Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah, juga mencatatkan persentase 100 persen untuk penggunaan LPG. Ini menunjukkan bahwa program konversi energi dari bahan bakar lain ke LPG telah berhasil diimplementasikan di kabupaten ini. Bersama dengan daerah lain, Kabupaten Sukamara menduduki ranking 5 di pulau Kalimantan.
Kota Solok
Kota Solok, Sumatera Barat, mencapai persentase 100 persen dalam penggunaan LPG sebagai bahan bakar memasak. Ini menunjukkan bahwa hampir seluruh rumah tangga di kota ini telah menggunakan LPG untuk memasak. Bersama dengan daerah lain, Kota Solok menduduki ranking 11 di pulau Sumatera.
Kota Batu
Kota Batu, Jawa Timur, mencapai persentase 100 persen dalam penggunaan LPG sebagai bahan bakar memasak. Ini menunjukkan bahwa hampir seluruh rumah tangga di kota ini telah menggunakan LPG untuk memasak. Bersama dengan daerah lain, Kota Batu menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kota Cilegon
Kota Cilegon, Banten, mencapai persentase 100 persen dalam penggunaan LPG sebagai bahan bakar memasak. Ini menunjukkan bahwa hampir seluruh rumah tangga di kota ini telah menggunakan LPG untuk memasak. Bersama dengan daerah lain, Kota Cilegon menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kota Binjai
Kota Binjai, Sumatera Utara, dengan persentase 100% penggunaan LPG, menunjukkan adopsi menyeluruh energi bersih untuk memasak di kalangan rumah tangga. Capaian ini didukung oleh ketersediaan pasokan yang stabil dan harga terjangkau, menjadikannya pilihan utama bagi masyarakat. Bersama dengan daerah lain, Kota Binjai menduduki ranking 11 di pulau Sumatera.
Kota Salatiga
Kota Salatiga, Jawa Tengah, mencapai 100% penggunaan LPG, mencerminkan keberhasilan program konversi energi dan kesadaran masyarakat akan manfaat energi bersih. Infrastruktur yang baik dan distribusi yang efisien memastikan ketersediaan LPG bagi seluruh rumah tangga. Bersama dengan daerah lain, Kota Salatiga menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kota Tasikmalaya
Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, dengan 100% rumah tangga menggunakan LPG untuk memasak, menunjukkan komitmen terhadap energi bersih dan berkelanjutan. Program pemerintah yang efektif dan dukungan masyarakat menjadi kunci keberhasilan ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Tasikmalaya menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
(Baca: Laju Pertumbuhan PDRB di Jawa Barat | 2024)
Kabupaten Kulonprogo
Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, mencapai 100% penggunaan LPG, mencerminkan pemerataan akses energi bersih hingga pelosok daerah. Program subsidi dan edukasi berperan penting dalam mendorong adopsi LPG di kalangan masyarakat. Bersama dengan daerah lain, Kabupaten Kulonprogo menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kabupaten Sleman
Kabupaten Sleman, Yogyakarta, juga mencapai 100% penggunaan LPG, menunjukkan kesadaran masyarakat akan pentingnya energi bersih dan efisien. Ketersediaan LPG yang terjamin dan harga yang stabil menjadi faktor pendorong utama. Bersama dengan daerah lain, Kabupaten Sleman menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kota Kediri
Kota Kediri, Jawa Timur, dengan 100% rumah tangga menggunakan LPG, menunjukkan keberhasilan program konversi energi dan komitmen pemerintah daerah terhadap lingkungan. Kemudahan akses dan harga terjangkau menjadikan LPG pilihan utama bagi masyarakat. Bersama dengan daerah lain, Kota Kediri menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kota Pekalongan
Kota Pekalongan, Jawa Tengah, mencapai 100% penggunaan LPG, mencerminkan kesadaran masyarakat akan manfaat energi bersih dan dukungan terhadap program pemerintah. Distribusi LPG yang merata dan harga yang stabil memastikan ketersediaan bagi seluruh rumah tangga. Bersama dengan daerah lain, Kota Pekalongan menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kota Dumai
Kota Dumai, Riau, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Dumai berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Sumatera. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Dumai menduduki ranking 11 di pulau Sumatera.
Kota Payakumbuh
Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Payakumbuh berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Sumatera. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Payakumbuh menduduki ranking 11 di pulau Sumatera.
Kota Bukit Tinggi
Kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Bukit Tinggi berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Sumatera. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Bukit Tinggi menduduki ranking 11 di pulau Sumatera.
Kota Padang Panjang
Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Padang Panjang berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Sumatera. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Padang Panjang menduduki ranking 11 di pulau Sumatera.
Kota Metro
Kota Metro, Lampung, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Metro berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Sumatera. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Metro menduduki ranking 11 di pulau Sumatera.
Kota Jakarta Barat
Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Jakarta Barat berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Jawa. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Jakarta Barat menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kota Cimahi
Kota Cimahi, Jawa Barat, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Cimahi berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Jawa. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Cimahi menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kota Magelang
Kota Magelang, Jawa Tengah, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Magelang berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Jawa. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Magelang menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kota Depok
Kota Depok, Jawa Barat, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Depok berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Jawa. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Depok menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kota Cirebon
Kota Cirebon, Jawa Barat, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Cirebon berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Jawa. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Cirebon menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kota Bekasi
Kota Bekasi, Jawa Barat, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Bekasi berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Jawa. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Bekasi menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kota Banjar
Kota Banjar, Jawa Barat, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Banjar berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Jawa. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Banjar menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kota Yogyakarta
Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Yogyakarta berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Jawa. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Yogyakarta menduduki ranking 11 di pulau Jawa.
Kota Banjar Baru
Kota Banjar Baru, Kalimantan Selatan, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Banjar Baru berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Kalimantan. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Banjar Baru menduduki ranking 5 di pulau Kalimantan.
Kota Banda Aceh
Kota Banda Aceh, Aceh, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Banda Aceh berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Sumatera. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Banda Aceh menduduki ranking 11 di pulau Sumatera.
Kota Bengkulu
Kota Bengkulu, Bengkulu, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Bengkulu berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Sumatera. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Bengkulu menduduki ranking 11 di pulau Sumatera.
Kota Sabang
Kota Sabang, Aceh, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Sabang berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Sumatera. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Sabang menduduki ranking 11 di pulau Sumatera.
Kota Gorontalo
Kota Gorontalo, Gorontalo, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Gorontalo berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Sulawesi. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Gorontalo menduduki ranking 2 di pulau Sulawesi.
Kabupaten Belitung Timur
Kabupaten Belitung Timur, Bangka Belitung, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kabupaten Belitung Timur berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Sumatera. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kabupaten Belitung Timur menduduki ranking 11 di pulau Sumatera.
Kota Pangkal Pinang
Kota Pangkal Pinang, Bangka Belitung, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Pangkal Pinang berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Sumatera. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Pangkal Pinang menduduki ranking 11 di pulau Sumatera.
Kota Banjarmasin
Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Banjarmasin berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Kalimantan. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Banjarmasin menduduki ranking 5 di pulau Kalimantan.
Kota Sibolga
Kota Sibolga, Sumatera Utara, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Sibolga berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Sumatera. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Sibolga menduduki ranking 11 di pulau Sumatera.
Kota Bau Bau
Kota Bau Bau, Sulawesi Tenggara, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kota Bau Bau berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Sulawesi. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kota Bau Bau menduduki ranking 2 di pulau Sulawesi.
Kabupaten Kayong Utara
Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, mencapai persentase 100%, menunjukkan adopsi menyeluruh LPG sebagai bahan bakar memasak di kalangan rumah tangga. Dengan pencapaian ini, Kabupaten Kayong Utara berbagi posisi teratas, dalam hal penggunaan LPG di Kalimantan. Ketersediaan pasokan yang stabil, serta harga yang terjangkau, memegang peranan penting dalam keberhasilan transisi ini. Bersama dengan daerah lain, Kabupaten Kayong Utara menduduki ranking 5 di pulau Kalimantan.