Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Nilai PDRB ADHB Industri Pengolahan Menurut Provinsi (Data Triwulanan) untuk Papua Selatan hingga kuartal II 2025. Nilai kuartal terakhir sebesar 494.97 Rp miliar, dengan pertumbuhan 2.33% dibanding kuartal sebelumnya (I/2025) dan selisih nilai 11.27 Rp miliar. Rata-rata pertumbuhan 3 kuartal terakhir (II/2025, I/2025, IV/2024) adalah 1.62%, sedangkan rata-rata 5 kuartal terakhir (mulai dari II/2024 hingga II/2025) adalah 1.75%, yang menunjukkan pertumbuhan 3 kuartal terakhir sedikit lebih buruk dibanding periode 5 kuartal. Kenaikan tertinggi terjadi pada kuartal IV/2024 dengan pertumbuhan 2.53% dan selisih nilai 11.94 Rp miliar, sedangkan pertumbuhan negatif terjadi pada kuartal I/2025 dengan pertumbuhan -0.01% dan selisih nilai -0.03 Rp miliar. Ranking Papua Selatan di pulau Papua tetap 4 selama 6 kuartal yang diamati, dan ranking se-Indonesia berada di peringkat 36 kecuali kuartal III/2024 dan IV/2024 yang berada di peringkat 35.
(Baca: Sektor Utama Penggerak Perekonomian di Kabupaten Purworejo pada 2024)
Provinsi Papua
Provinsi Papua menempati peringkat 3 di pulau Papua dan 33 se-Indonesia untuk Nilai PDRB ADHB Industri Pengolahan pada kuartal terakhir. Nilai kuartal terakhir sebesar 673.26 Rp miliar, dengan pertumbuhan 0.53% dibanding kuartal sebelumnya dan selisih nilai 3.56 Rp miliar. Nilai dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 669.7 Rp miliar, dan nilai dua kuartal sebelumnya sebesar 661.17 Rp miliar. Dibandingkan Papua Selatan, nilai kuartal terakhir Provinsi Papua lebih tinggi sebesar 178.29 Rp miliar, dengan pertumbuhan yang lebih rendah (0.53% vs 2.33%). Ranking Provinsi Papua di pulau juga lebih tinggi (peringkat 3) dibanding Papua Selatan (peringkat 4), dan ranking se-Indonesia juga lebih baik (33 vs 36). Rata-rata pertumbuhan 3 kuartal terakhir untuk Provinsi Papua, jika dilihat dari data perbandingan, menunjukkan pertumbuhan yang stabil namun lebih rendah dibanding Papua Selatan pada kuartal II 2025, menunjukkan bahwa industri pengolahan di Papua Selatan mengalami kemajuan yang lebih signifikan pada periode ini dibanding Provinsi Papua.
Provinsi Gorontalo
Provinsi Gorontalo menempati peringkat 6 di pulau Sulawesi dan 34 se-Indonesia untuk Nilai PDRB ADHB Industri Pengolahan pada kuartal terakhir. Nilai kuartal terakhir sebesar 668.49 Rp miliar, dengan pertumbuhan 0.63% dibanding kuartal sebelumnya dan selisih nilai 4.2 Rp miliar. Nilai dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 664.29 Rp miliar, dan nilai dua kuartal sebelumnya sebesar 623.42 Rp miliar. Dibandingkan Papua Selatan, nilai kuartal terakhir Provinsi Gorontalo lebih tinggi sebesar 173.52 Rp miliar, dengan pertumbuhan yang lebih rendah (0.63% vs 2.33%). Ranking se-Indonesia Gorontalo lebih baik (34) dibanding Papua Selatan (36), meskipun berada di pulau yang berbeda. Pertumbuhan Gorontalo pada kuartal terakhir sedikit lebih tinggi dibanding Provinsi Papua namun masih jauh lebih rendah dibanding Papua Selatan, menunjukkan bahwa industri pengolahan di Papua Selatan mengalami pertumbuhan yang lebih cepat pada periode kuartal II 2025 dibanding kedua provinsi tersebut.
(Baca: PDRB ADHB di Kabupaten Luwu Menurut Sektor pada 2024)
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Provinsi Nusa Tenggara Timur menempati peringkat 3 di pulau Nusa Tenggara dan Bali serta 35 se-Indonesia untuk Nilai PDRB ADHB Industri Pengolahan pada kuartal terakhir. Nilai kuartal terakhir sebesar 557.75 Rp miliar, dengan pertumbuhan 8.76% dibanding kuartal sebelumnya dan selisih nilai 44.92 Rp miliar. Nilai dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 512.83 Rp miliar, dan nilai dua kuartal sebelumnya sebesar 481.2 Rp miliar. Dibandingkan Papua Selatan, nilai kuartal terakhir Provinsi Nusa Tenggara Timur lebih tinggi sebesar 62.78 Rp miliar, dan pertumbuhannya juga jauh lebih tinggi (8.76% vs 2.33%). Ranking se-Indonesia Nusa Tenggara Timur sama dengan Papua Selatan pada kuartal III/2024 dan IV/2024 (peringkat 35), namun pada kuartal II 2025, Nusa Tenggara Timur berada di peringkat 35 sedangkan Papua Selatan di 36. Pertumbuhan yang tinggi ini menunjukkan bahwa industri pengolahan di Nusa Tenggara Timur mengalami kemajuan yang signifikan pada kuartal terakhir, jauh melebihi pertumbuhan Papua Selatan, meskipun nilai absolutnya masih lebih tinggi dibanding Papua Selatan.
Provinsi Papua Tengah
Provinsi Papua Tengah menempati peringkat 5 di pulau Papua dan 37 se-Indonesia untuk Nilai PDRB ADHB Industri Pengolahan pada kuartal terakhir. Nilai kuartal terakhir sebesar 108.94 Rp miliar, dengan pertumbuhan 2.25% dibanding kuartal sebelumnya dan selisih nilai 2.4 Rp miliar. Nilai dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 106.54 Rp miliar, dan nilai dua kuartal sebelumnya sebesar 105.64 Rp miliar. Dibandingkan Papua Selatan, nilai kuartal terakhir Provinsi Papua Tengah jauh lebih rendah sebesar 386.03 Rp miliar, dengan pertumbuhan yang sedikit lebih rendah (2.25% vs 2.33%). Ranking Papua Tengah di pulau Papua lebih rendah (5) dibanding Papua Selatan (4), dan ranking se-Indonesia juga lebih buruk (37 vs 36). Hal ini menunjukkan bahwa industri pengolahan di Papua Selatan lebih berkembang dibanding Papua Tengah, baik dari segi nilai maupun peringkat, meskipun pertumbuhannya hampir sama pada kuartal terakhir, menunjukkan bahwa kedua provinsi di pulau Papua mengalami kemajuan yang hampir sama pada periode ini namun Papua Selatan memiliki dasar yang lebih kuat.
Provinsi Papua Pegunungan
Provinsi Papua Pegunungan menempati peringkat 6 di pulau Papua dan 38 se-Indonesia untuk Nilai PDRB ADHB Industri Pengolahan pada kuartal terakhir. Nilai kuartal terakhir sebesar 54.27 Rp miliar, dengan pertumbuhan 0.93% dibanding kuartal sebelumnya dan selisih nilai 0.5 Rp miliar. Nilai dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 53.77 Rp miliar, dan nilai dua kuartal sebelumnya sebesar 52.56 Rp miliar. Dibandingkan Papua Selatan, nilai kuartal terakhir Provinsi Papua Pegunungan jauh lebih rendah sebesar 440.7 Rp miliar, dengan pertumbuhan yang lebih rendah (0.93% vs 2.33%). Ranking Papua Pegunungan di pulau Papua adalah yang terendah di antara provinsi Papua yang dibandingkan, dan ranking se-Indonesia juga lebih buruk dibanding Papua Selatan. Pertumbuhan yang rendah ini menunjukkan bahwa industri pengolahan di Papua Pegunungan masih berkembang dengan lambat, jauh di belakang Papua Selatan pada periode kuartal II 2025, meskipun mengalami pertumbuhan positif setiap kuartal.