Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDRB ADHK sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang di Kabupaten Mesuji, Lampung pada tahun 2024 sebesar Rp 2,14 miliar. Data historis menunjukkan adanya fluktuasi. Nilai tertinggi terjadi pada tahun 2022 dengan pertumbuhan 5,13%, sedangkan penurunan terdalam terjadi pada tahun 2024 dengan pertumbuhan -1,83%.
Secara umum, PDRB sektor ini di Mesuji menunjukkan pertumbuhan positif dari tahun 2010 hingga 2023. Namun, pada tahun 2024 terjadi penurunan yang perlu menjadi perhatian. Rata-rata pertumbuhan selama lima tahun terakhir (2019-2023) adalah 3,68%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2024 yang justru mengalami penurunan. Anomali penurunan ini mengindikasikan adanya faktor khusus yang mempengaruhi sektor ini di Kabupaten Mesuji pada tahun tersebut.
(Baca: PDRB ADHB di Kabupaten Kolaka Menurut Sektor pada 2024)
Jika dibandingkan dengan daerah lain, ranking Kabupaten Mesuji di Pulau Sumatera untuk sektor ini adalah 112 dari seluruh kabupaten/kota. Secara nasional, Mesuji berada di peringkat 391. Ini menunjukkan bahwa kinerja sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang di Mesuji masih perlu ditingkatkan agar dapat bersaing dengan daerah lain di Sumatera dan seluruh Indonesia.
Pada tahun 2017, pertumbuhan PDRB sektor ini mencapai 5,95%, menjadi yang tertinggi dalam periode 2010-2024. Namun, setelah itu pertumbuhan cenderung melambat hingga akhirnya mengalami penurunan di tahun 2024. Penurunan ini mengindikasikan perlunya evaluasi terhadap kebijakan dan strategi pengembangan sektor ini di Kabupaten Mesuji.
Fluktuasi PDRB sektor ini di Mesuji mencerminkan dinamika pengelolaan lingkungan dan sumber daya di daerah tersebut. Perlu adanya upaya berkelanjutan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sampah, limbah, serta daur ulang agar sektor ini dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap perekonomian daerah.
Kota Langsa
Kota Langsa menempati peringkat 388 secara nasional dan 110 di Pulau Sumatera. Pertumbuhan PDRB sektor ini mencapai 4,57% dengan nilai Rp 2,29 miliar. Angka ini menunjukkan kinerja yang cukup baik dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan di wilayah lain. Peningkatan ini menunjukkan adanya perkembangan yang signifikan dalam pengelolaan sumber daya dan lingkungan di Kota Langsa.
(Baca: PDRB ADHB di Kabupaten Bombana Menurut Sektor pada 2024)
Kabupaten Gunung Mas
Kabupaten Gunung Mas mencatatkan penurunan yang signifikan, yaitu -1,79% dengan nilai Rp 2,19 miliar. Meski demikian, posisinya di Pulau Kalimantan cukup baik, yaitu peringkat 50. Penurunan ini perlu diinvestigasi lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya dan mencari solusi yang tepat. Faktor-faktor seperti perubahan kebijakan atau masalah operasional bisa menjadi penyebab penurunan ini.
Kabupaten Mandailing Natal
Kabupaten Mandailing Natal mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik, yaitu 3,37% dengan nilai Rp 2,15 miliar. Namun, posisinya di Pulau Sumatera masih berada di peringkat 111. Pertumbuhan ini menunjukkan adanya potensi yang perlu terus dikembangkan agar dapat meningkatkan posisinya di tingkat regional. Langkah-langkah seperti inovasi dalam pengelolaan sampah dan limbah bisa menjadi kunci untuk meningkatkan pertumbuhan ini.
Kota Sabang
Kota Sabang menunjukkan kinerja yang stabil dengan pertumbuhan 0% dan nilai Rp 2,1 miliar. Namun, posisinya di Pulau Sumatera berada di peringkat 113. Stagnasi ini perlu diatasi dengan inovasi dan strategi baru untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sektor ini. Langkah-langkah seperti investasi dalam infrastruktur dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia bisa membantu mendorong pertumbuhan sektor ini di Kota Sabang.
Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan
Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan mencatatkan penurunan turun 0,48% dengan nilai Rp 2,08 miliar. Posisinya di Pulau Sumatera berada di peringkat 114. Penurunan ini perlu menjadi perhatian serius dan memerlukan tindakan korektif yang tepat. Identifikasi masalah dan implementasi solusi yang efektif akan membantu memulihkan pertumbuhan sektor ini di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan.
Kabupaten Seram Bagian Barat
Kabupaten Seram Bagian Barat menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik, yaitu 1,98% dengan nilai Rp 2,06 miliar dan menduduki peringkat 13 di wilayah Maluku. Peningkatan ini menunjukkan adanya perkembangan positif dalam pengelolaan sumber daya dan lingkungan di Kabupaten Seram Bagian Barat. Langkah-langkah seperti peningkatan kesadaran masyarakat dan penerapan teknologi ramah lingkungan bisa terus mendorong pertumbuhan sektor ini.