Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase rumah tangga di Papua Pegunungan yang menggunakan tanah sebagai jenis lantai terluas pada tahun 2025 sebesar 19,55 persen. Berdasarkan data historis, angka ini mengalami penurunan sebesar 19,53 poin atau setara kontraksi 49,97 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar 39,08 persen. Seluruh periode pencatatan yang tersedia menunjukkan tren penurunan tajam, dengan nilai terendah terjadi pada tahun 2025, sedangkan nilai tertinggi pernah tercatat pada tahun 2024. Rata-rata angka indikator ini selama periode pencatatan berada di 29,315 persen, dimana kondisi tahun 2025 berada di bawah nilai rata-rata keseluruhan.
(Baca: 8,48% Penduduk di Kabupaten Banyuasin Masuk Kategori Miskin)
Untuk periode pencatatan yang tersedia, tidak ditemukan periode kenaikan angka indikator ini, dengan seluruh periode perubahan menunjukkan arah penurunan. Ranking Papua Pegunungan untuk indikator ini tetap berada di peringkat pertama baik di lingkup pulau Papua maupun ranking nasional sepanjang tahun 2024 hingga 2025. Penurunan sebesar 49,97 persen ini merupakan satu-satunya perubahan periode yang tercatat, menjadi penurunan terendah sekaligus satu-satunya pergerakan nilai pada seluruh data historis yang tersedia.
Papua Pegunungan
Papua Pegunungan menempati peringkat pertama se-Indonesia untuk indikator persentase rumah tangga dengan lantai tanah pada tahun 2025, dengan nilai tercatat 19,55 persen. Wilayah ini mencatatkan kontraksi tahunan sebesar 49,97 persen, penurunan terbesar dibandingkan seluruh provinsi lain yang masuk dalam lima besar peringkat nasional. Meskipun mengalami penurunan nilai paling tajam, posisi ranking provinsi ini tidak berubah, dan tetap menjadi provinsi dengan persentase rumah tangga lantai tanah tertinggi di seluruh wilayah Indonesia serta menempati urutan pertama di wilayah pulau Papua.
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur menempati peringkat kedua nasional dengan nilai indikator 6,11 persen pada tahun 2025. Wilayah ini mencatatkan penurunan nilai sebesar 3,67 poin atau setara kontraksi 37,53 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Provinsi ini juga menempati posisi pertama tertinggi untuk lingkup pulau Nusa Tenggara dan Bali, memiliki nilai hampir tiga kali lebih rendah dibandingkan nilai yang tercatat pada Papua Pegunungan sebagai peringkat pertama nasional.
(Baca: Harga Kedelai Amerika Kontrak Dua Bulan - US Soybeans Futures Turun Selama Tiga Hari Terakhir)
Papua Tengah
Papua Tengah berada di peringkat ketiga nasional dengan nilai 5,28 persen pada tahun terakhir pencatatan. Wilayah ini mencatatkan kontraksi sebesar 69,85 persen dibandingkan periode sebelumnya, penurunan persentase terbesar kedua setelah Papua Pegunungan. Di lingkup pulau Papua, provinsi ini menempati urutan kedua dibawah Papua Pegunungan, memiliki selisih nilai sekitar 14,27 poin dibawah nilai yang tercatat pada provinsi tetangganya tersebut.
Jawa Tengah
Jawa Tengah menempati peringkat keempat nasional dengan nilai indikator 4,59 persen pada tahun 2025. Wilayah ini mencatatkan penurunan nilai sebesar 2,83 poin atau setara kontraksi 38,14 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di lingkup pulau Jawa, provinsi ini menempati urutan pertama sebagai wilayah dengan persentase rumah tangga lantai tanah tertinggi, dengan selisih nilai sekitar 14,96 poin dibawah nilai nasional tertinggi yang tercatat di Papua Pegunungan.
Jawa Timur
Jawa Timur berada di peringkat kelima nasional dengan nilai indikator 3,17 persen pada tahun terakhir pencatatan. Wilayah ini mencatatkan penurunan nilai sebesar 1,85 poin atau setara kontraksi 36,85 persen dibandingkan periode sebelumnya. Di lingkup pulau Jawa, provinsi ini menempati urutan kedua dibawah Jawa Tengah, menjadi provinsi dengan persentase rumah tangga lantai tanah terendah diantara lima besar peringkat nasional pada tahun 2025.
Nilai penurunan yang terjadi di seluruh lima provinsi teratas menunjukkan pola pergerakan yang sama keseluruhannya menurun pada tahun 2025. Tidak ditemukan satupun provinsi di lima besar peringkat nasional yang mencatatkan kenaikan nilai indikator ini selama periode tahun 2024 ke 2025. Seluruh wilayah juga mencatatkan nilai tahun 2025 berada dibawah nilai rata-rata periode pencatatan masing-masing wilayah.