Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDRB ADHB Sektor Pertambangan dan Penggalian Provinsi Maluku pada tahun 2025 tercatat sebesar 960,46 Rp miliar. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 8,65 persen dibandingkan tahun 2024, dengan selisih penurunan mencapai 90,96 Rp miliar. Selama periode 16 tahun data sejak 2010, sektor ini menunjukkan tren naik secara keseluruhan dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 3,43 persen, namun tiga tahun terakhir mengalami kontraksi rata-rata sebesar 11,57 persen. Kondisi ini jauh lebih buruk dibandingkan rata-rata pertumbuhan 5 tahun terakhir yang masih tercatat positif sedikit sebesar 0,18 persen.
(Baca: Harga Kopi Kontrak Tiga Bulan - US Coffee C Futures Naik Menuju Level 312.85 Pound (Jumat, 28 Agustus 2026))
Selama periode data historis, kenaikan pertumbuhan tertinggi sektor pertambangan Maluku terjadi pada tahun 2011 dengan pertumbuhan 50,07 persen, sedangkan penurunan terbesar tercatat pada tahun 2023 dengan kontraksi mencapai 23,26 persen. Posisi ranking Provinsi Maluku di wilayah pulau Maluku secara konsisten berada di peringkat 2 selama seluruh periode data, sedangkan ranking nasional tahun 2025 berada di posisi 33 dari seluruh provinsi di Indonesia. Nilai tahun 2025 ini juga tercatat berada di bawah rata-rata nilai PDRB sektor ini selama periode pengamatan yang mencapai 1005,03 Rp miliar.
Sepanjang 16 tahun pengamatan, nilai PDRB sektor pertambangan dan penggalian Maluku bergerak fluktuatif dengan 8 kali periode mengalami kenaikan dan 7 kali periode mengalami penurunan nilai. Nilai tertinggi sepanjang sejarah tercatat pada tahun 2022 sebesar 1409,66 Rp miliar, sebelum kemudian mengalami penurunan secara berturut-turut selama 3 tahun terakhir hingga tahun 2025. Total peningkatan nilai dari tahun 2010 hingga 2025 mencapai 65,74 persen, meskipun terjadi kontraksi berkelanjutan di akhir periode pengamatan.
Bali
Provinsi Bali menempati peringkat 2 di wilayah Pulau Nusa Tenggara dan Bali serta peringkat 30 secara nasional untuk indikator PDRB ADHB sektor pertambangan dan penggalian. Nilai tahun terakhir wilayah ini tercatat sebesar 2652,26 Rp miliar, mengalami pertumbuhan sebesar 4,03 persen dibandingkan tahun sebelumnya dengan selisih kenaikan mencapai 102,7 Rp miliar. Nilai ini hampir tiga kali lipat lebih besar dibandingkan nilai PDRB sektor yang sama di Provinsi Maluku tahun 2025, dengan posisi ranking nasional 3 tingkat lebih tinggi dari Maluku.
Sulawesi Barat
Sulawesi Barat tercatat berada di peringkat 5 wilayah Pulau Sulawesi dan peringkat 31 secara nasional. Nilai PDRB sektor pertambangan dan penggalian wilayah ini pada tahun terakhir mencapai 1495,67 Rp miliar, tumbuh sebesar 5,49 persen dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan wilayah ini termasuk positif diantara wilayah sekitarnya, dengan nilai sekitar 55 persen lebih tinggi dibandingkan nilai yang dicapai Provinsi Maluku pada tahun yang sama, serta memegang posisi ranking nasional 2 tingkat di atas Maluku.
Nusa Tenggara Timur
(Baca: Statistik Produksi Kakao Periode 2013-2024)
Nusa Tenggara Timur menempati posisi peringkat 3 di wilayah Pulau Nusa Tenggara dan Bali dengan ranking nasional 32. Nilai indikator pada wilayah ini tercatat sebesar 1422,84 Rp miliar, dengan pertumbuhan sedikit sebesar 1,22 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun pertumbuhan sangat rendah, nilai total PDRB sektor ini di Nusa Tenggara Timur masih hampir 48 persen lebih besar dibandingkan nilai yang dicatat Provinsi Maluku pada tahun 2025, dengan posisi ranking nasional satu tingkat di atas Maluku.
DI Yogyakarta
DI Yogyakarta berada di peringkat 6 wilayah Pulau Jawa dan peringkat 34 secara nasional. Nilai PDRB ADHB sektor pertambangan dan penggalian wilayah ini tercatat sebesar 791,27 Rp miliar, mengalami penurunan sebesar 9,19 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Wilayah ini menjadi satu-satunya provinsi dalam daftar perbandingan yang memiliki nilai lebih rendah dibandingkan Provinsi Maluku, serta mengalami kontraksi pertumbuhan yang sedikit lebih besar dibandingkan penurunan yang terjadi di Maluku pada tahun yang sama.
Papua
Provinsi Papua menempati peringkat 4 wilayah Pulau Papua dengan ranking nasional 35. Nilai indikator di wilayah ini tercatat sebesar 770,36 Rp miliar, mengalami pertumbuhan positif sebesar 7,55 persen dibandingkan periode sebelumnya. Meskipun mencatatkan pertumbuhan positif yang cukup tinggi, nilai total PDRB sektor pertambangan ini di Papua masih 19,8 persen lebih rendah dibandingkan nilai yang dicapai Provinsi Maluku pada tahun 2025, dengan posisi ranking nasional dua tingkat di bawah Maluku.
Gorontalo
Gorontalo berada di peringkat 6 wilayah Pulau Sulawesi dan peringkat 36 secara nasional. Nilai PDRB ADHB sektor pertambangan dan penggalian wilayah ini tercatat sebesar 723,65 Rp miliar, mengalami pertumbuhan sebesar 19,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini merupakan yang tertinggi diantara seluruh provinsi dalam daftar perbandingan, meskipun nilai total wilayah ini masih 24,6 persen lebih rendah dibandingkan nilai yang tercatat untuk Provinsi Maluku pada tahun 2025.