Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat data Jumlah Desa yang Sebagian Besar Keluarga Menggunakan Bahan Bakar Lainnya untuk Memasak di Kabupaten Aceh Timur sampai akhir tahun 2025. Sepanjang periode pencatatan sejak 2014, nilai indikator ini stagnan di angka 0 desa selama 11 tahun berturut-turut, sebelum akhirnya tercatat ada 1 desa pada tahun 2025. Kenaikan ini terjadi setelah 3 periode tahun sebelumnya tidak menunjukkan perubahan nilai sama sekali, dengan besar selisih penambahan sebanyak 1 desa dibandingkan tahun 2019. Tren data keseluruhan menunjukkan arah naik, dengan nilai tahun 2025 berada di atas rata-rata seluruh periode pencatatan.
(Baca: Akumulasi Penyaluran Pinjaman Fintech DKI Jakarta Tertinggi pada 2023)
Sepanjang 5 tahun terakhir pencatatan, indikator ini tidak menunjukkan pergerakan nilai sampai tahun 2025. Rata-rata nilai indikator selama seluruh periode adalah 0,25 desa, sehingga capaian 1 desa pada tahun 2025 berada jauh di atas rata-rata historis. Kenaikan yang terjadi pada 2025 merupakan satu-satunya kenaikan yang tercatat selama seluruh periode data, sekaligus menjadi nilai tertinggi yang pernah tercatat untuk kabupaten ini. Sebelumnya, nilai terendah secara konsisten tercatat pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2019.
Peringkat Kabupaten Aceh Timur pada indikator ini mengalami peningkatan sangat drastis dalam 5 tahun terakhir. Pada tahun 2019 kabupaten ini berada di peringkat 5 wilayah di Pulau Sumatera, lalu melonjak menjadi peringkat 1 teratas di Pulau Sumatera pada tahun 2025. Secara nasional, peringkat wilayah ini juga meningkat dari posisi 8 menjadi peringkat 2 se-Indonesia pada tahun 2025. Tidak ada penurunan peringkat yang tercatat sepanjang periode data historis yang tersedia.
Pada tahun 2025, capaian Kabupaten Aceh Timur sejajar dengan Kabupaten Lanny Jaya dari Papua, namun masih berada di bawah Kabupaten Maybrat yang mencatat 2 desa. Secara persentase pertumbuhan, Kabupaten Aceh Timur merupakan satu-satunya wilayah di tiga besar nasional yang mencatat kenaikan nilai pada tahun terakhir, sementara dua wilayah lain dari Papua mengalami penurunan nilai. Posisi peringkat 1 di Sumatera menjadikan kabupaten ini sebagai wilayah dengan perkembangan terbaik untuk indikator ini di luar kawasan Papua.
Tidak ada fluktuasi nilai pada periode 2014 sampai 2019, seluruh data tercatat stagnan di angka 0 desa. Anomali kenaikan hanya terjadi pada tahun 2025, dimana penambahan 1 desa terjadi setelah 11 tahun tidak ada perubahan sama sekali. Capaian tahun 2025 juga merupakan satu-satunya periode dimana nilai indikator berada di atas rata-rata seluruh periode pencatatan.
Kabupaten Maybrat
(Baca: Data 2024: Jumlah Perceraian Kalimantan Selatan 312 Kasus)
Kabupaten Maybrat menduduki posisi peringkat 1 teratas di Pulau Papua dan peringkat 1 secara nasional dengan nilai pencatatan 2 desa pada tahun terakhir. Wilayah ini mengalami perubahan nilai turun 2 desa dibandingkan tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan negatif sebesar 50 persen. Meskipun mengalami penurunan nilai dibandingkan periode sebelumnya, capaian Kabupaten Maybrat masih berada di atas dua wilayah lain yang masuk dalam 3 besar nasional pada tahun pencatatan 2025, menjadi satu-satunya wilayah yang mencatat nilai di atas 1 desa untuk indikator ini.
Kabupaten Aceh Timur
Kabupaten Aceh Timur mencatat nilai 1 desa pada tahun terakhir, menduduki peringkat 1 teratas di seluruh wilayah Pulau Sumatera dan peringkat 2 secara nasional. Wilayah ini mencatat kenaikan nilai sebanyak 1 desa dari periode sebelumnya, dengan pertumbuhan tak terhingga karena tidak ada nilai pada tahun sebelumnya. Capaian ini menjadikan Kabupaten Aceh Timur sebagai satu-satunya wilayah di luar Pulau Papua yang masuk dalam tiga besar peringkat nasional untuk indikator ini pada tahun 2025, mengungguli ratusan kabupaten lain di seluruh Indonesia.
Kabupaten Lanny Jaya
Kabupaten Lanny Jaya tercatat memiliki nilai 1 desa pada tahun pencatatan terakhir, menempati peringkat 2 di Pulau Papua dan berbagi peringkat 2 secara nasional bersama Kabupaten Aceh Timur. Wilayah ini mengalami penurunan nilai turun 2 desa dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penurunan pertumbuhan sebesar 66,67 persen. Meskipun mengalami penurunan yang cukup besar dibandingkan periode sebelumnya, wilayah ini masih berhasil mempertahankan posisi di tiga besar nasional untuk indikator bahan bakar memasak ini, mengungguli hampir seluruh kabupaten lain di luar tiga besar pencatatan tahun 2025.