Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data nilai impor tahunan Provinsi Nusa Tenggara Barat sepanjang periode 2016 hingga 2021 dengan satuan nilai US$ juta. Pada tahun 2021 sebagai tahun terakhir pencatatan, nilai impor tercatat 151,61 US$ juta, mengalami kontraksi pertumbuhan turun 42,83 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sepanjang 6 tahun periode, data menunjukkan tren umum turun dengan perubahan total nilai impor turun 9,65 persen dari awal periode pencatatan.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Lombok Tengah | 2004 - 2025)
Sepanjang riwayat pencatatan, kenaikan pertumbuhan impor tertinggi terjadi pada tahun 2018 dengan capaian pertumbuhan 231,31 persen, sementara penurunan terendah tercatat pada tahun 2017 dengan kontraksi -56,01 persen. Rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir tercatat negatif turun 9,66 persen, jauh lebih buruk dibandingkan rata-rata pertumbuhan 5 tahun terakhir yang masih tercatat positif 29,27 persen. Nilai impor tahun 2021 juga tercatat berada di bawah rata-rata periode keseluruhan.
Untuk posisi peringkat, Nusa Tenggara Barat mempertahankan posisi peringkat 1 di wilayah pulau Nusa Tenggara dan Bali pada tahun 2021, sama seperti capaian peringkat pada tahun 2020. Secara nasional, provinsi ini menempati peringkat 21 dari seluruh provinsi di Indonesia pada tahun terakhir pencatatan. Nilai impor 151,61 US$ juta ini berada di bawah nilai provinsi pembanding teratas seperti Papua yang mencatatkan 383,66 US$ juta pada periode yang sama.
Papua
Papua menempati peringkat teratas seluruh provinsi pembanding dengan nilai impor tahun terakhir sebesar 383,66 US$ juta, menjadi satu-satunya wilayah pada daftar perbandingan yang memiliki nilai impor di atas 300 US$ juta. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan impor sebesar 92,13 persen, merupakan pertumbuhan tertinggi kedua setelah Aceh pada daftar ini, dan menempati peringkat 18 secara nasional. Selisih kenaikan nilai impor Papua dibandingkan tahun sebelumnya mencapai 183,98 US$ juta, jauh lebih besar dibandingkan seluruh provinsi lain dalam daftar perbandingan.
Kalimantan Barat
Kalimantan Barat mencatatkan nilai impor tahun terakhir sebesar 282,22 US$ juta, menempati urutan kedua setelah Papua dalam daftar provinsi pembanding. Wilayah pulau Kalimantan ini mengalami kontraksi pertumbuhan impor turun 35,83 persen pada tahun terakhir, dengan penurunan nilai mencapai 157,58 US$ juta dibandingkan periode sebelumnya. Secara nasional Kalimantan Barat menempati peringkat 19, hanya satu peringkat di bawah Papua dan dua peringkat di atas posisi Nusa Tenggara Barat.
(Baca: PDRB Kabupaten Manokwari 2025: Rp12,04 Triliun, Tumbuh 3,74 Persen)
Maluku
Maluku tercatat memiliki nilai impor tahun terakhir sebesar 182,54 US$ juta, menempati urutan ketiga dalam daftar perbandingan dan peringkat 20 secara nasional. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan impor positif sebesar 79,84 persen pada tahun terakhir, dengan kenaikan nilai mencapai 81,04 US$ juta dibandingkan tahun sebelumnya. Secara peringkat wilayah pulau, Maluku menempati posisi 2 di wilayahnya, dengan nilai impor masih di atas capaian Nusa Tenggara Barat pada periode 2021.
Aceh
Aceh mencatatkan pertumbuhan impor tertinggi seluruh provinsi pembanding dengan angka 361,86 persen pada tahun terakhir pencatatan. Meskipun demikian, nilai impor tahun terakhir Aceh hanya tercatat 119,05 US$ juta, menempati peringkat 22 secara nasional dan urutan keempat dalam daftar ini. Kenaikan nilai impor Aceh mencapai 93,27 US$ juta dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi salah satu kenaikan nilai absolut terbesar pada daftar perbandingan meskipun nilai dasar impor wilayah ini sebelumnya relatif rendah.
Kalimantan Utara
Kalimantan Utara memiliki nilai impor tahun terakhir sebesar 98,07 US$ juta, menempati peringkat 23 secara nasional dan peringkat 4 di wilayah pulau Kalimantan. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan impor sebesar 15,95 persen pada tahun terakhir, dengan kenaikan nilai mencapai 13,49 US$ juta dibandingkan periode sebelumnya. Nilai impor Kalimantan Utara tercatat berada sedikit di bawah capaian Nusa Tenggara Barat pada tahun 2021.
Sulawesi Utara
Sulawesi Utara mencatatkan nilai impor tahun terakhir sebesar 97,17 US$ juta, menjadi provinsi dengan nilai impor terendah dalam daftar perbandingan yang dirilis. Wilayah ini mengalami kontraksi pertumbuhan impor turun 34,44 persen pada tahun terakhir, dengan penurunan nilai mencapai 51,04 US$ juta dibandingkan tahun sebelumnya. Secara nasional Sulawesi Utara menempati peringkat 24, tiga peringkat di bawah posisi Nusa Tenggara Barat pada periode 2021.