Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase desa yang sebagian besar keluarga menggunakan LPG lebih dari 3kg untuk memasak di Kabupaten Humbang Hasundutan pada tahun 2024 sebesar 45.45 persen. Data historis menunjukkan fluktuasi, di mana pada tahun 2014 angka ini sebesar 38.31 persen, kemudian meningkat menjadi 57.14 persen pada tahun 2018, lalu melonjak menjadi 78.57 persen pada tahun 2020, namun mengalami penurunan menjadi 65.58 persen pada tahun 2021. Penurunan kembali terjadi pada tahun 2024 menjadi 45.45 persen. Terjadi penurunan signifikan dari 2021 ke 2024 turun 20.13 persen.
Dibandingkan rata-rata 3 tahun terakhir (2020, 2021, 2024) sebesar 63.20 persen, angka tahun 2024 lebih rendah. Jika dibandingkan dengan rata-rata 5 tahun terakhir (2014, 2018, 2020, 2021, 2024), yaitu sebesar 56.91 persen, angka tahun 2024 juga lebih rendah. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada periode 2018-2020 sebesar 37.5 persen, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada periode 2021-2024 turun 30.69 persen. Peringkat Kabupaten Humbang Hasundutan menurut pulau Sumatera pada tahun 2024 adalah 110, menurun dibandingkan tahun 2020 yang berada pada peringkat 59. Peringkat secara nasional juga menurun menjadi 350 pada tahun 2024.
(Baca: Jumlah Angkatan Kerja dan Persentase Pengangguran di Kota Binjai)
Pada tahun 2024, persentase sebesar 45.45 persen dan berada di ranking 110 di Sumatera menunjukkan bahwa Kabupaten Humbang Hasundutan masih perlu meningkatkan penggunaan LPG oleh keluarga di desa-desa dibandingkan kabupaten lain di Sumatera Utara. Dibandingkan dengan tahun 2021 (ranking 85), terjadi penurunan peringkat. Sementara itu, secara nasional, peringkat 350 menunjukkan posisi yang relatif rendah dibandingkan kabupaten/kota lain di Indonesia.
Kenaikan tertinggi penggunaan LPG terjadi antara tahun 2018 dan 2020, dengan pertumbuhan mencapai 37.5 persen. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam adopsi penggunaan LPG untuk memasak di desa-desa. Namun, penurunan tajam yang terjadi antara tahun 2021 dan 2024 turun 30.69 persen merupakan anomali yang perlu ditelusuri penyebabnya. Penurunan ini signifikan dibandingkan dengan fluktuasi yang terjadi dalam tiga tahun sebelumnya.
Anomali penurunan pada tahun 2024 dibandingkan tahun 2020 dan 2021 mengindikasikan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan LPG di tingkat keluarga. Faktor-faktor ini perlu diidentifikasi lebih lanjut, seperti ketersediaan LPG, harga, atau perubahan perilaku masyarakat. Dibandingkan dengan 5 tahun terakhir, penurunan ini merupakan yang terendah, menunjukkan adanya tantangan dalam mempertahankan penggunaan LPG di Kabupaten Humbang Hasundutan.
Kabupaten Buton Selatan
Kabupaten Buton Selatan berada di peringkat 347 secara nasional dan 55 di pulau Sulawesi, dengan persentase desa yang sebagian besar keluarga menggunakan LPG lebih dari 3kg untuk memasak sebesar 45.71 persen. Nilai ini menunjukkan posisi yang lebih baik dibandingkan Kabupaten Humbang Hasundutan secara nasional, namun perlu dipertimbangkan bahwa Kabupaten Buton Selatan berada di pulau yang berbeda. Pertumbuhan nilai indikator ini stabil yaitu 0 persen.
(Baca: Jumlah Desa yang Sebagian Besar Keluarga Menggunakan LPG Lebih dari 3Kg untuk Memasak di DI Yogyakarta | 2024)
Kota Prabumulih
Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, mencatatkan persentase 45.65 persen, menduduki peringkat 348 di Indonesia dan 108 di Sumatera. Dibandingkan dengan daerah lain di Sumatera, posisi Prabumulih berada di tengah, menunjukkan bahwa adopsi LPG di tingkat keluarga desa masih memerlukan upaya lebih lanjut. Terjadi pertumbuhan positif dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 12.61 persen.
Kabupaten Asahan
Kabupaten Asahan mencatat persentase 45.59 persen, menduduki peringkat 349 secara nasional dan 109 di Sumatera. Dibandingkan dengan Kota Prabumulih, Asahan memiliki nilai sedikit lebih rendah. Pertumbuhan di kabupaten ini mengalami penurunan -16.96 persen, menunjukkan tantangan dalam mempertahankan adopsi LPG di tingkat keluarga.
Kabupaten Karo
Kabupaten Karo menunjukkan persentase 45.35 persen, berada di peringkat 351 secara nasional dan 111 di Sumatera. Kabupaten Karo mengalami penurunan pertumbuhan turun 11.59 persen, indikasi bahwa upaya lebih intensif dibutuhkan untuk meningkatkan penggunaan LPG di tingkat keluarga.
Kabupaten Muna
Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, memiliki persentase 45.33 persen, menempati peringkat 352 secara nasional dan 56 di Sulawesi. Dibandingkan dengan Kabupaten Buton Selatan di pulau yang sama, Muna memiliki nilai sedikit lebih rendah. Pertumbuhan di kabupaten ini menunjukkan penurunan turun 15 persen.
Kabupaten Aceh Tenggara
Kabupaten Aceh Tenggara mencatatkan persentase 45.19 persen, berada di peringkat 353 secara nasional dan 112 di Sumatera. Angka ini menunjukkan posisi yang perlu ditingkatkan dibandingkan dengan kabupaten lain di Sumatera. Pertumbuhan di kabupaten ini meningkat yaitu 29.85 persen, menandakan adanya perbaikan signifikan dalam adopsi LPG di tingkat keluarga.