Blok Masela adalah ladang gas bumi di Provinsi Maluku yang memiliki peran strategis bagi Indonesia.
"Blok Masela merupakan salah satu aset gas bumi terbesar yang dimiliki Indonesia saat ini," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam acara Kajian Tengah Tahun INDEF di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Ladang gas besar ini sudah ditemukan sejak 1998. Namun, proyek pembangunan kilang gas di Blok Masela baru dimulai pada Juli 2026.
"Pada siang hari ini, dengan rahmat Tuhan Yang Mahabesar, saya Prabowo Subianto, Presiden RI, saya nyatakan groundbreaking Proyek Strategis Nasional Liquefied Natural Gas [LNG] Abadi Masela secara resmi dimulai," kata Prabowo, disiarkan di YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (16/7/2026).
(Baca: Maluku, Wilayah dengan Cadangan Gas Bumi Terbesar di Indonesia)
Proyek gas di Blok Masela ditargetkan bisa beroperasi pada 2029, dengan target kapasitas produksi 9,5 juta ton LNG per tahun, mampu menyalurkan gas pipa 150 million standard cubic feet per day (MMSCFD), dan menghasilkan 35 ribu barel kondensat minyak per hari.
Proyek ini didominasi oleh perusahaan asal Jepang, yaitu INPEX, yang berperan sebagai operator dan memiliki hak partisipasi sebesar 65%.
Sementara, Pertamina memegang 20% hak partisipasi, dan Petronas asal Malaysia 15%.
Menurut INPEX, mereka akan memasarkan gas dari Blok Masela ke berbagai negara di Asia.
"Dengan memanfaatkan lokasi strategis proyek LNG skala besar ini, kami berencana memasarkan LNG secara luas kepada pembeli di Indonesia di mana permintaan diperkirakan akan tumbuh, serta kepada pembeli LNG di Asia Timur dan pembeli baru di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan wilayah lainnya," kata INPEX di situs resminya.
(Baca: Cadangan Gas Bumi Indonesia Menyusut Selama 2019-2024)