Menurut data International Energy Agency (IEA), ada 19,87 juta barel minyak per hari yang dikirim melalui Selat Hormuz sepanjang tahun 2025.
Minyak tersebut paling banyak berasal dari Arab Saudi, dengan proporsi 31,4% dari total pengiriman.
Kemudian 18,3% pengiriman minyak via Selat Hormuz berasal dari Irak; 16,3% dari Uni Emirat Arab; 12,1% dari Iran; 11,9% dari Kuwait; 7,2% dari Qatar; dan 1,1% dari Bahrain.
Sedangkan minyak dari negara-negara lainnya yang dikirim lewat jalur ini hanya sedikit, dengan proporsi 1,8%.
Berikut rincian volume minyak yang dikirim via Selat Hormuz pada tahun 2025 (gabungan minyak mentah, kondensat, dan produk hasil minyak):
- Arab Saudi: 6,23 juta barel per hari
- Irak: 3,63 juta barel per hari
- Uni Emirat Arab: 3,24 juta barel per hari
- Iran: 2,41 juta barel per hari
- Kuwait: 2,37 juta barel per hari
- Qatar: 1,43 juta barel per hari
- Bahrain: 0,21 juta barel per hari
- Negara-negara lainnya: 0,35 juta barel per hari
"Selat Hormuz adalah jalur ekspor utama untuk minyak yang diproduksi oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Irak, Bahrain, dan Iran," kata IEA dalam Strait Hormuz Factsheet (Februari 2026).
(Baca: Selat Hormuz, Jalur Perdagangan Minyak Terbesar Kedua di Dunia)
Jika digabung, seluruh minyak yang dikirim melalui Selat Hormuz pada tahun 2025 setara 18,9% dari permintaan minyak global, yang volume totalnya 105,13 juta barel per hari.
Angka tersebut menjadikan Selat Hormuz sebagai salah satu jalur perdagangan minyak utama dunia.
"Besarnya volume minyak yang diekspor melalui Selat Hormuz, dan terbatasnya pilihan jalur lain, menjadikan setiap gangguan di selat ini berdampak besar bagi pasar minyak dunia," kata IEA.
"Lonjakan harga minyak yang signifikan tak akan terhindarkan, dan kelangkaan fisik akan cepat terjadi, jika ada gangguan berkepanjangan," lanjutnya.
(Baca: Sehari Perang, Pengiriman Minyak di Selat Hormuz Berkurang 86%)