Data data riset energi Ember yang diolah kolumnis transisi energi global, Gavin Maguire menunjukkan, terdapat sejumlah negara yang banyak mengandalkan batu bara untuk bauran pembangkit listriknya pada 2025.
Dalam tulisannya di Reuters, Maguire menghimpun negara dalam daftar ini pun termasuk pengimpor batu bara terbesar dari Indonesia.
India tercatat menjadi negara dengan penggunaan batu bara tertinggi, yakni 70% dari bauran energi pembangkit listriknya.
Lalu ada Filipina (57%), China (55%), Vietnam (48%), dan Malaysia (45%).
Negara lainnya mengantongi proporis kurang dari 40%, sebagaimana terlampir pada grafik.
(Baca: Filipina dan Bangladesh Sangat Bergantung dengan Impor Batu Bara RI)
Menurut Maguire, apabila Indonesia—sebagai produsen kakap batu bara—akan memangkas kuota ekspor batu bara di pasar spot dalam waktu yang lama, tetap terasa bahkan di pasar yang lebih rendah ketergantungannya terhadap impor, seperti China dan India, akibat konfigurasi lokasi pembangkit listrik pesisir.
"Sejumlah pembangkit listrik tenaga batu bara berskala besar di China dan India berlokasi dekat pelabuhan impor komoditas curah utama, sehingga sebagian besar pasokan batu baranya bersumber dari pemasok internasional, bukan dari pasar domestik," kata Maguire dalam tulisannya, Rabu (4/2/2026).
Menurutnya, jika terjadi kenaikan berkelanjutan di pasar batu bara internasional, pembangkit-pembangkit tersebut memang dapat meningkatkan pasokan dari pasar domestik, namun akan menanggung biaya angkut yang lebih tinggi karena distribusi harus beralih dari pengiriman kapal curah ke angkutan truk dan kereta api.
"Artinya, meskipun sistem utilitas di Filipina dan Bangladesh kemungkinan menjadi pihak pertama yang merespons penghentian ekspor Indonesia, seluruh pembangkit batu bara di Asia pada akhirnya akan terdampak, seiring pasar memperhitungkan pemangkasan volume dari pemasok batu bara terbesar dunia," tulis Maguire.
(Baca: Indonesia Kuasai Ekspor Batu Bara Termal Dunia pada 2025)