Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia pada kuartal I 2026 tumbuh 5,61% (year-on-year/yoy).
Pertumbuhan ekonomi ini diukur dari nilai produk domestik bruto (PDB) harga konstan Indonesia, yang naik dari Rp3.264,6 triliun pada kuartal I 2025, menjadi Rp3.447,7 triliun pada kuartal I 2026.
Jika diukur berdasarkan harga berlaku, nilai PDB Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai Rp6.187,2 triliun.
(Baca: Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I 2026 Menguat, Tertinggi sejak Pandemi Usai)
Sektor usaha yang menjadi penopang utama ekonomi Indonesia adalah industri pengolahan.
Pada kuartal I 2026, industri pengolahan menghasilkan PDB harga berlaku senilai Rp1.179,6 triliun.
Angka tersebut setara 19,07% dari total PDB nasional, jauh melampaui sektor-sektor usaha lainnya.
Berikut rincian nilai PDB harga berlaku Indonesia per lapangan usaha pada kuartal I 2026, diurutkan dari yang terbesar:
- Industri pengolahan: Rp1.179,6 triliun (19,07% dari PDB nasional)
- Perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor: Rp821,4 triliun (13,28%)
- Pertanian, kehutanan, dan perikanan: Rp783,6 triliun (12,67%)
- Konstruksi: Rp607,1 triliun (9,81%)
- Pertambangan dan penggalian: Rp537,8 triliun (8,69%)
- Transportasi dan pergudangan: Rp378,3 triliun (6,11%)
- Informasi dan komunikasi: Rp273,6 triliun (4,42%)
- Jasa keuangan dan asuransi: Rp260 triliun (4,20%)
- Administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib: Rp208,3 triliun (3,37%)
- Penyediaan akomodasi dan makan-minum: Rp172,7 triliun (2,79%)
- Jasa pendidikan: Rp170,4 triliun (2,76%)
- Real estat: Rp140 triliun (2,26%)
- Jasa lainnya: Rp136,4 triliun (2,20%)
- Jasa perusahaan: Rp122 triliun (1,97%)
- Jasa kesehatan dan kegiatan sosial: Rp76,7 triliun (1,24%)
- Pengadaan listrik dan gas: Rp58,9 triliun (0,95%)
- Pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang: Rp3,8 triliun (0,06%)
(Baca: Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I 2026, Terkuat di Sektor Akomodasi-Makan-Minum)