Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia pada kuartal I 2026 tumbuh 5,61% (year-on-year/yoy).
Angka pertumbuhan tersebut paling tinggi sejak pandemi Covid-19 dinyatakan berakhir pada 2023, seperti terlihat pada grafik.
Pertumbuhan ekonomi ini diukur dari nilai produk domestik bruto (PDB) harga konstan Indonesia, yang naik dari Rp3.264,6 triliun pada kuartal I 2025, menjadi Rp3.447,7 triliun pada kuartal I 2026.
Jika diukur berdasarkan harga berlaku, nilai PDB Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai Rp6.187,2 triliun.
(Baca: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Sedikit Menguat pada 2025)
Namun, pertumbuhan tidak terjadi secara merata di semua sektor usaha.
Dari 17 lapangan usaha utama Indonesia, ada 15 sektor yang mengalami pertumbuhan.
Pertumbuhan paling tinggi terjadi di sektor penyediaan akomodasi dan makan-minum, yang PDB harga konstannya tumbuh 13,14% (yoy).
Di sisi lain, ada 2 sektor yang PDB harga konstannya tumbuh negatif atau berkurang dibanding kuartal I tahun lalu, yaitu pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian.
Berikut rincian pertumbuhan PDB Indonesia per lapangan usaha pada kuartal I 2026, diurutkan dari yang tertinggi:
- Penyediaan akomodasi dan makan-minum: 13,14% (yoy)
- Jasa lainnya: 9,91% (yoy)
- Transportasi dan pergudangan: 8,04% (yoy)
- Jasa kesehatan dan kegiatan sosial: 7,62% (yoy)
- Informasi dan komunikasi: 7,14% (yoy)
- Administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib: 6,45% (yoy)
- Perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor: 6,26% (yoy)
- Konstruksi: 5,49% (yoy)
- Jasa pendidikan: 5,18% (yoy)
- Industri pengolahan: 5,04% (yoy)
- Pertanian, kehutanan, dan perikanan: 4,97% (yoy)
- Jasa perusahaan: 4,91% (yoy)
- Jasa keuangan dan asuransi: 4,68% (yoy)
- Real estat: 3,54% (yoy)
- Pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang: 0,42% (yoy)
- Pengadaan listrik dan gas: -0,99% (yoy)
- Pertambangan dan penggalian: -2,14% (yoy)
(Baca: Sektor Usaha Penopang Utama Ekonomi Indonesia Tahun 2025)