Data yang dikoleksi Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam belanja militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran selama dua dekade terakhir.
Menggunakan acuan harga konstan yang dikonversi ke dolar AS (US$) pada perhitungan 2024, belanja AS tercatat lebih besar daripada Iran.
Selama 2004-2024, belanja AS tercatat di rentang US$795 miliar-1 triliun per tahunnya.
Belanja tertinggi terjadi pada 2010, menyentuh US$1,03 triliun. Sementara terendah pada 2024 sebesar US$795,29 miliar.
Dalam catatan SIPRI, AS memang tercatat sebagai negara dengan pengeluaran militer terbesar di dunia.
Belanja harga konstan (2024) pada data terakhir 2024 tercatat sebesar US$968,38 miliar, sedangkan harga berlaku sebesar US$997,3 miliar atau 37% dari total pengeluaran militer di dunia.
Sementara Iran berada di rentang US$5 miliar-7 miliar dengan acuan konstan (2024). Pengeluaran tertinggi terjadi pada 2006 yang sebesar US$7,58 miliar, sedangkan terendah pada 2015 yang mencapai US$5,15 miliar.
Semua angka untuk AS mengacu pada tahun fiskal (setiap 1 Oktober tahun sebelumnya–30 September tahun tertulis) dan bukan tahun kalender.
Pengeluaran militer AS mencakup sebagian dari total pengeluaran National Intelligence Programme, yang menurut SIPRI dianggap sebagai kegiatan terkait militer. Angka AS juga termasuk perkiraan bantuan militer untuk Ukraina.
Sementara keterangan untuk Iran, mencakup pengeluaran untuk Iranian Revolutionary Guard Corps (IRGC) yang didefinisikan sebagai pasukan paramiliter. Angka juga termasuk pensiun yang disebut sebagai Armed Forces Social Security Organization.
Kurs yang digunakan untuk konversi dari Rial ke US$ didasarkan pada kurs NIMA yang diluncurkan oleh bank sentral Republik Islam Iran pada April 2018.
(Baca: AS Negara Pemasok Senjata Terbesar untuk Qatar)
AS Bakal Serang Iran
Melansir laporan Katadata, militer AS siap menyerang Iran paling cepat akhir pekan ini, meskipun Presiden Donald Trump belum membuat keputusan akhir soal tindakan tersebut.
Dikutip dari CNN, Kamis (19/2/2026), sumber tersebut mengatakan AS telah diberi pengarahan bahwa militer harus siap untuk menyerang pada akhir pekan, setelah peningkatan signifikan aset udara dan angkatan laut di Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir.
Namun, satu sumber memperingatkan bahwa Trump secara pribadi telah berargumen baik mendukung maupun menentang tindakan militer dan telah meminta pendapat para penasihat dan sekutunya tentang tindakan terbaik yang harus diambil.
Tindakan ini merupakan lanjutan dari perundingan nuklir yang berlangsung di Jenewa, Swiss pada Selasa (17/2/2026). Negosiator Iran dan AS bertukar catatan selama tiga setengah jam, meskipun mereka pergi tanpa resolusi yang jelas.
Negosiator utama Iran mengatakan kedua belah pihak telah menyepakati "serangkaian prinsip panduan," meskipun seorang pejabat Amerika mengatakan "masih banyak detail yang perlu dibahas."
Kini AS bakal memperketat ancaman sanksi dan aksi militer terhadap Iran menyusul kebuntuan putaran kedua perundingan tersebut. Sikap keras AS ini juga menyusul langkah Teheran yang menggelar latihan angkatan laut bersama Rusia di Laut Oman.
Washington menilai langkah Iran tersebut memperburuk situasi keamanan kawasan dan memperkecil peluang tercapainya kesepakatan.
Selain di Jenewa, AS dan Iran sebelumnya juga telah menggelar perundingan nuklir putaran pertama pada 6 Februari lalu di Oman selaku mediator.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, Washington dan Teheran masih memiliki perbedaan tajam dalam sejumlah isu krusial, terutama terkait pengayaan uranium dan perluasan cakupan perjanjian nuklir.
“Kami masih sangat berjauhan dalam sejumlah isu," kata Leavitt, diberitakan oleh Al Jazeera pada Kamis (18/2/2026).
(Baca: Adu Kekuatan Militer Israel vs Iran)