Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) melaporkan progres 18 proyek hilirisasi dengan nilai investasi mencapai US$38,63 miliar atau sekitar Rp618,13 triliun.
Pengerjaan proyek tersebut dikebut agar dapat melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking, paling lambat Maret 2026.
Pada tahap awal, pengerjaan akan difokuskan di enam proyek hilirisasi. Salah satunya adalah proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) untuk mengurangi ketergantungan pada impor LPG.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan, pelaksanaan groundbreaking berikutnya akan dilaksanakan pada Februari dan Maret 2026.
"Ada beberapa program yang berkenaan dengan energi, pembangunan beberapa titik DME. Kemudian juga ada program-program di bidang pertanian," kata Prasetyo Hadi, diwartakan Katadata, Selasa (16/1/2026).
Di samping itu, pembangunan proyek hilirisasi ini turut menyerap tenaga kerja di Tanah Air. Berikut rincian penyerapan tenaga kerja di 18 proyek hilirisasi Danantara yang tengah dalam tahap pengerjaan:
- Oil refinery: 44.000 pekerja
- Industri DME (batu bara), 6 lokasi: 34.800 pekerja
- Industri chlor alkali plant (garam): 33.000 pekerja
- Industri fillet tilapia (ikan tilapia): 27.600 pekerja
- Industri nata de coco, MCT, coconut flour, activated carbon (kelapa): 22.100 pekerja
- Modul surya terintegrasi (bauksit dan silika): 19.500 pekerja
- Industri besi baja (pasir besi): 18.000 pekerja
- Industri smelter aluminium (bauksit): 14.700 pekerja
- Industri stainless steel slab (nikel): 12.000 pekerja
- Industri bioavtur (used cooking oil): 10.152 pekerja
- Industri copper rod, wire, dan tube (katoda tembaga): 9.700 pekerja
- Industri chemical grade alumina (bauksit): 7.100 pekerja
- Oil storage tanks: 6.960 pekerja
- Industri mangan sulfat (mangan): 5.224 pekerja
- Industri oleofood (kelapa sawit): 4.800 pekerja
- Industri aspal (aspal buton): 3.450 pekerja
- Industri oleoresin (pala): 1.850 pekerja
- Industri carrageenan (rumput laut): 1.700 pekerja
(Baca: Investasi Hilirisasi di RI Capai Rp584 T pada 2025, Sektor Mineral Terdepan)