Kementerian LHK Deteksi 35 Hotspot di Indonesia, Terbanyak di Sumatera Selatan (Sabtu, 7 Desember 2024)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 35 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 13 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Sabtu (7/12/2024) pukul 11.10 WIB. Dari 35 titik panas terdeteksi, 34 titik skala sedang dan 1 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Kalimantan Barat Hasilkan Emisi CO2 dari Karhutla Terbanyak sampai Juli 2023)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Sumatera Selatan sebanyak 13 titik. Riau menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 7 titik. Aceh berada di posisi ketiga sebanyak 4 titik panas.
Sebanyak 4 titik panas terdeteksi di Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur menyusul dengan 3 titik panas, serta Papua Tengah dan Jambi masing-masing memiliki 1 dan 1 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: 55 Bencana Terjadi pada Tengah September 2023, Karhutla Mendominasi)