Kementerian LHK: Jumlah Titik Panas di Indonesia Capai 443 Dalam 24 Jam Terakhir (Rabu, 21 Januari 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 443 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 84 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Rabu (21/1/2026) pukul 11.02 WIB. Dari 443 titik panas terdeteksi, 2 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 438 titik skala sedang, dan 3 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Negara dengan Gunung Berapi Aktif Terbanyak di Dunia, Indonesia Pertama)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Barat sebanyak 139 titik. Kalimantan Tengah menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 134 titik. Maluku Utara berada di posisi ketiga sebanyak 26 titik panas.
Sebanyak 20 titik panas terdeteksi di Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan menyusul dengan 19 titik panas, serta Aceh dan Kepulauan Bangka Belitung masing-masing memiliki 19 dan 11 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Tren Letusan Gunung Berapi dalam Beberapa Tahun Terakhir)